Kompas.com - 15/10/2018, 19:35 WIB

3. Komandan Berkepala Dingin
Pasca-perang, dia bermarkas di Resimen Ke-124 hingga 1 Oktober 1920, dan dipindahkan ke Resimen Infanteri Ke-13 di Stuttgart sebagai Kapten.

Kesatuannya bertugas memadamkan kerusuhan dan kekacauan sipil yang terjadi di Jerman. Alih-alih menggunakan kekerasan, Rommel memilih diplomasi.

Salah satu keampuhan teknik negosiasinya terjadi di Lindau di mana kota itu dikuasai pasukan revolusioner komunis.

Dia bernegosiasi dengan dewan kota, dan berhasil meyakinkan mereka untuk mengembalikan kekuasaan ke pemerintahan yang sah.

Baca juga: Bom Era Perang Dunia II Ditemukan, Seisi Kota Dievakuasi

Keberhasilannya kemudian menular ke Schwaebisch Gmuend. Sejarawan Raffael Scheck memuji Rommel yang selalu berkepala dingin berpikir moderat.

Antara 1929-1933, dia bertugas sebagai instruktur di Sekolah Infanteri Dresden dengan sebelumnya pangkatnya dinaikkan sebagai Mayor April 1932.

Di sana, Rommel mencurahkan bakat menulisnya, dan menghasilkan buku pelatihan infanteri yang terbit pada 1934. Saat itu, pangkatnya menjadi Oberstieutnant (Letnan Kolonel).

Dia ditempatkan di Batalion Jaeger Ketiga, Resimen Infanteri Ke-17 yang bermarkas di Goslar. Di sana, Rommel bertemu Pemimpin Nazi Adolf Hitler.

Terkesan dengan reputasi Rommel sebagai intruktur militer hebat, Hitler menugaskannya sebagai perwira penghubung Kementerian Perang dengan Pergerakan Muda Hitler.

1 Agustus 1937, Rommel dipromosikan sebagai Oberst (Kolonel). 1938, Rommel menjadi komandan Akademi Militer Theresian di Wiener Neustadt.

Oktober 1938, Hitler secara khusus memintanya sebagai komandan kedua Fuehrerbegleitbatallion atau pasukan pengawal Fuehrer.

Selama menjadi komandan pengawal pribadi Hitler, Rommel meluangkan waktunya mempelajari mesin dan mekanika, sistem pembakaran mesin hingga senjata berat.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Jepang Menyerah dan Perang Dunia II Berakhir

4. Perang Dunia II
23 Agustus 1939, Rommel naik pangkat sebagai Mayor Jenderal dan menjabat Komandan Fuehrerbegleitbatallion saat Invasi Polandia yang dimulai 1 September 1939.

Kesuksesan di Polandia rupanya membuat Rommel tertarik untuk terjun kembali ke medan perang. Dia berusaha meyakinkan Hitler agar menempatkannya di salah satu Divisi Panzer.

Februari 1940, dia menjadi Komandan Divisi Panzer Ketujuh berkekuatan 218 tank di tiga batalion, dua resimen senapan serbu, satu batalion teknisi, hingga batalion anti-tank.

Prestasi besar langsung ditunjukkan dalam penugasan pertama dengan divisinya ambil bagian dalam serbuan melalui Sungai Meuse.

Baca juga: Pertempuran Amiens, Awal dari Akhir Perang Dunia I

Divisi Lapis Baja Ketujuh menerobos hutan di kawasan Ardennes, dan berhasil memotong kekuatan pasukan Inggris-Perancis di selatan dan utara sampai Somme.

Rommel berhasil menawan 100.000 prajurit beserta 450 unit tank. Adapun pihaknya menderita kerugian 2.500 serdadunya gugur dan 42 tank hancur.

Keberhasilan Rommel membuat Hitler menggesernya untuk mengepalai Korps Afrika Jerman (DAK) yang baru dibentuk, berkekuatan Divisi Ringan Kelima dan Divisi Panzer Ke-15.

Dia diangkat sebagai Letnan Jenderal, dan segera terbang ke Tripoli, Libya, untuk membantu militer Italia yang menderita kekalahan dari pasukan Persemakmuran Inggris di Operasi Kompas.

Saat itu, Rommel harus melawan pasukan Sekutu yang dipimpin Panglima Tertinggi Komando Timur Tengah, Jenderal Archibald Wavell.

Dia harus melawan Sekutu dengan modal hanya dua divisi. Meski begitu, Rommel mampu memukul mundur pasukan Inggris dalam waktu 30 hari.

Bahkan, dia mampu membawa pasukannya mengepung pertahanan lawan di sekitar kota Tobruk yang berjarak 160 kilometer di belakang medan tempur antara April hingga Desember 1941.

Sempat dihantam balik Inggris, Rommel kembali dengan membawa DAK pada Juni 1942, dan akhirnya merebut Tobruk dalam serangan yang dikenal sebagai Pertempuran Gazala.

Dikenal karena kepiawaiannya memimpin pasukan langsung ke garis depan alih-alih belakang, jurnalis Inggris menjulukinya "Rubah Gurun".

Selain di kalangan anak buahnya, Rommel dipuji sebagai "Marsekal Rakyat" dan populer di Arab karena bertindak sebagai pembebas dari penjajahan Inggris.

Tidak lama kemudian, Hitler menganugeraninya pangkat Field Marshal, dan memperoleh reputasi sebagai salah satu jenderal sukses Hitler.

Baca juga: Kisah 3 Pilot Rusia yang Tembak Jatuh Pesawat di Perang Dunia II

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.