Pendeta AS yang Ditahan 2 Tahun di Turki Dibebaskan

Kompas.com - 13/10/2018, 10:49 WIB
Pastor Andrew Craig Brunson dikawal oleh petugas polisi berpakaian sipil di Turki pada 25 Juli 2018 di Izmir. (AFP) Pastor Andrew Craig Brunson dikawal oleh petugas polisi berpakaian sipil di Turki pada 25 Juli 2018 di Izmir. (AFP)

ANKARA, KOMPAS.com - Seorang pendeta Amerika Serikat ( AS) yang sudah dua tahun ditahan otoritas Turki dilaporkan telah dibebaskan.

Dalam persidangan di Aliaga, hakim menyatakan Andrew Brunson bersalah atas tuduhan terorisme, dan memvonis penjara tiga tahun, satu bulan, dan 15 hari.

Namun seperti dilansir AFP Sabtu (13/10/2018) Brunson bebas mengingat hukuman dua tahun yang sudah dijalani serta perilaku baiknya selama menjalani hukuman.

Baca juga: Penasihat AS: Krisis Turki-AS Selesai Saat Pendeta Kami Dibebaskan


Pengadilan memutuskan mencabut status penahanan rumah maupun larangan bepergian ke luar negeri yang membuatnya bisa kembali ke AS.

Sebelum hakim menjatuhkan putusan, pendeta Gereja Presbyterian itu sempat memberikan pembelaan terakhir dengan mengatakan dia tak bersalah.

"Saya cinta Turki. Saya cinta Yesus," kata Brunson. Setelah hakim memberi putusan, dia langsung menangis dan memeluk istrinya, Norine.

CNN melaporkan, Brunson telah tiba di Pangkalan Angkatan Udara Ramstein di Jerman, dan bakal tinggal sementara di sana sebelum terbang ke Washington.

Presiden Donald Trump yang tengah berkampanye untuk pemilu legislatif di Ohio menyambut baik kabar tersebut, dan berniat bertemu Brunson.

"Syukurlah, Pastor Brunson sudah terbang. Dia kemungkinan berada di Ruang Oval Sabtu. Saya berharap kondisinya baik," ujar Trump di Cincinnati.

Pengacara Brunson Ismail Cem Halavurt berkata pemindai elektronik yang dipasang di tubuh Brunson bakal segera dilepas. "Dia pria bebas sekarang," tuturnya.

Media AS NBC melaporkan, pembebasan pendeta berusia 50 tahun tersebut terjadi setelah Washington dan Turki meraih kesepakatan rahasia.

Dikabarkan AS bakal mencabut "tekanan ekonomi", termasuk di dalamnya sanksi yang membuat mata uang Turki lira melemah.

Kabar itu langsung ditepis Trump yang menegaskan pembebasan Brunson sudah sesuai dengan sistem. Bantahan juga dilayangkan Ankara.

Malah, Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Fahrettin Altun mengkritisi Trump setelah dia melontarkan kicauan bahwa dia sudah bekerja keras mengeluarkan Brunson.

Baca juga: Erdogan: Jika AS Punya Dollar, Turki Punya Rakyat dan Tuhan

"Sangat disayangkan bahwa AS berupaya menekan sistem peradilan kami selama ini dengan berbagai ancaman dan sanksi," ujar Altun.

Sebelumnya, Brunson ditangkap otoritas Turki pada Oktober 2016 atas tuduhan terlibat dalam upaya kudeta gagal untuk menjatuhkan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

AS bereaksi dengan meminta Brunson bebas, yang ditanggapi Ankara dengan meminta AS menyerahkan Fethullah Gulen, sosok yang dianggap sebagai otak kudeta 2016.

Karena ia tak segera dibebaskan, AS memberikan sanksi kepada dua menteri Turki yang dianggap terlibat dalam penahanan Brunson.

Selain itu, Trump juga mengumumkan bakal menggandakan bea masuk untuk dua produk ekspor Turki, antara lain baja dan aluminium.

Sanksi dan hantaman bea masuk tersebut membuat perekonomian Turki goyah, dengan mata uang mereka, lira, dilaporkan merosot hingga 40 persen terhadap dolar AS di 2018.

Baca juga: Aksi Balasan, Erdogan Serukan Boikot Produk Elektronik AS

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN,AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X