Terpidana Mati Berusia 100 Tahun Berusaha Dapatkan Pengampunan

Kompas.com - 11/10/2018, 12:40 WIB
Paul Egbunuche (41) memeluk ayahnya, Celestine (100). Keduanya selama 18 tahun terakhir berstatus terpidana mati. Global Society For Anti-CorruptionPaul Egbunuche (41) memeluk ayahnya, Celestine (100). Keduanya selama 18 tahun terakhir berstatus terpidana mati.
|

Masalah kesehatan yang membelit Celestine termasuk diabetes dan menurunnya penglihatan. Dan, Paul berusaha semampunya untuk membantu sang ayah.

"Satu-satunya hal yang bisa saya bantu untuk dia adalah makanan, misalnya mengupas pisang. Sementara petugas penjara memberinya obat," ujar Paul.

Celestine dan Paul tinggal di dalam sel bersama para terpidana mati lainnya yang memang dipisahkan dari para narapidana biasa.

"Saat saya bangun di pagi hari, saya akan merebus air dan memandikannya," kata Paul.

Baca juga: Eksekusinya Kembali Ditunda, Terpidana Mati Ini Justru Kesal

"Saya mengganti pakaian dan menyiapkan makanan untuknya. Jika petugas membuka sel, saya membawanya berjemur," tambah dia.

"Saya selalu berada di dekatnya, berbicara, dan bermain dengan dia," lanjut Paul.

Paul menambahkan, narapidana lain terkadang membantu mengurus Celestine dan sebagian besar dari mereka ingin agar pria tua itu dibebaskan.

Pada 4 Agustus lalu, Celestine genap berusia 100 tahun, peristiwa ini diharapkan bisa berujung pada dibebaskannya Celestine.

Sebuah foto Paul yang memeluk Celestina menjadi viral di media sosial pada Agustus lalu setelah sebuah media lokal membuat kisahnya.

Kisah itu kemudian memicu perdebatan tentang terlalu lamanya para terpidana mati di Nigeria menanti eksekusi hukuman mereka.

Menurut data terbaru dari Badan Pemasyarakatan Nigeria, terdapat lebih dari 2.000 orang terpidana mati yang sebagian besar sudah bertahun-tahun menunggu eksekusi.

Hukuman mati amat jarang dilakukan di Nigeria. Antara 2007 hingga 2017 hanya ada tujuh eksekusi hukuman mati di negeri itu.

Eksekusi terakhir terjadi pada 2016. Demikian menurut laporan Amnesti Internasional.

Franklin Ezeona adalah presiden Masyarakat Anti-Korupsi Global (GSAC), organisasi non-pemerintah yang membawa kasus Celestine ke ranah publik.

Ezeona sudah membuat petisi untuk mendesak pemerintah Nigeria membebaskan Celestine.

"Jika pria ini adalah ayah dari seorang gubernur atau menteri, saya kira dia tidak akan pernah berada di dalam penjara," kata Ezeona.

"Kemiskinan di sebagian besar negara Afrika menghalangi seseorang mendapatkan keadilan," tambah dia.

Ezeona melanjutkan, membuat seorang terpidana mati menunggu begitu lama menciptakan trauma dan siksaan tersendiri.

Baca juga: PM Irak Perintahkan Segera Eksekusi Ratusan Terpidana Mati ISIS

Ezeona berharap, kasus Celestine ini bisa membuat pemerintah mengevaluasi kasus-kasus lain dan memberikan cahaya bagi sistem peradilan di Nigeria.

"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua," Ezeona menegaskan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X