Putra Mahkota Saudi Disebut Perintahkan Operasi Penahanan Jurnalis yang Hilang - Kompas.com

Putra Mahkota Saudi Disebut Perintahkan Operasi Penahanan Jurnalis yang Hilang

Kompas.com - 11/10/2018, 09:18 WIB
Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman.FAYEZ NURELDINE / AFP Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - The Washington Post kembali melaporkan perkembangan terbaru mengenai hilangnya jurnalis asal Arab Saudi Jamal Khashoggi di Turki.

Dalam laporan Rabu (10/10/2018), Putra Mahkota Saudi sekaligus penguasa de facto Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, memerintahkan operasi untuk memancing Khashoggi kembali ke Saudi dari rumahnya di Virginia, Amerika Serikat.

Perintah itu diklaim bertujuan untuk menahan sang jurnalis pengkritik kebijakan kerajaan Saudi.

Laporan ditulis Washington Post berdasarkan intersepsi intelijen AS terhadap pejabat Saudi yang membahas rencana tersebut.

Baca juga: Trump Desak Saudi Jelaskan soal Lenyapnya Jurnalis di Turki

Keterangan intelijen itu menjadi bukti lain yang melibatkan rezim pemerintahan Saudi dalam kasus lenyapnya Khashoggi pada Selasa (2/10/2018), setelah memasuki Konsulat Saudi di Istanbul.

Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.AFP/MOHAMMED AL-SHAIKH Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.
Sementara, pejabat Turki mengatakan, tim keamanan Saudi telah menunggu jurnalis itu di dalam dan kemudian membunuhnya.

Khashoggi merupakan kritikus terkemuka terhadap pemerintah Saudi dan Pangeran Mohammed.

Beberapa rekannya menyebutkan, selama empat bulan terakhir ini para pejabat senior Saudi yang dekat dengan putra mahkota telah memanggil Khashoggi untuk menawarkan perlindungan kepadanya.

Mereka bahkan menawarkan pekerjaan tingkat tinggi di pemerintahan, jika dia kembali ke negara asalnya.

Khashoggi skeptis pada tawaran tersebut. Menurut dia, pemerintah Saudi tidak akan pernah menepati janjinya untuk tidak mencelakakannya.

"Dia bilang, 'Apakah Anda bercanda? Saya tidak mempercayai mereka (pemerintah Saudi) sedikit pun'," ucap Khaled Saffuri, seorang aktivis politik yang menceritakan percakapannya dengan Khashoggi pada Mei lalu.

Saat itu, sang jurnalis menerima panggilan dari penasihat istana kerajaan bernama Saud Al-Qahtani.

Baca juga: Pejabat Turki: Jurnalis Saudi Dibunuh atas Perintah Pimpinan Tinggi

AFP mewartakan, wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Robert Palladino sebelumnya menegaskan, AS tidak memiliki peringatan dini tentang ancaman konkret terhadap Khashoggi.

"Meski saya tidak bisa membahas masalah intelijen, saya dapat dengan pasti mengatakan, kami tidak memiliki informasi sebelum hilangnya Khashoggi," katanya.

Seperti diketahui, kasus ini telah memicu kemarahan dari kelompok hak asasi manusia dan jurnalisme.

Selain itu, lenyapnya Khashoggi bisa mengancam hubungan antara Arab Saudi dan AS, yang telah menuntut penjelasan dari kerajaan atas hilangnya jurnalis itu.


Close Ads X