Pemilu Thailand dan Jalan Menuju Masa Depan

Kompas.com - 08/10/2018, 12:05 WIB
Pasar Terapung di Bangkok, ThailandThinkstock Pasar Terapung di Bangkok, Thailand

“Anda mungkin bertanya, siapa Thanathorn dari Partai Masa Depan Maju? Dia idola saya. Ide-ide kebijakannya sangat bagus. Terlebih, dia percaya terhadap demokrasi,” kata Teerapon Thetkerd. 

SAAT itu malam minggu di kawasan Ratchathewi, Bangkok, area dekat dengan jantung ibu kota metropolis yang berpenduduk 10 juta orang. Di puncak jam-jam sibuk, lalu lintas hampir tidak bergerak dan trotoar dipenuhi pejalan kaki yang terburu-buru menuju stasiun kereta BTS terdekat untuk bisa segera sampai di rumah.

Tim Ceritalah bertemu dengan seorang pemuda berusia 26 tahun, Teerapon Thetkerd. Ada hawa kegelisahan dan kekhawatiran di saat kota ini, dan seluruh negeri, menunggu perhelatan Pemilihan Umum berikutnya.

Baca juga: Thailand Bentuk Pasukan Pengawal Raja Beranggotakan 1.600 Orang


Setelah empat tahun di bawah pemerintahan militer, Thailand akan kembali ke demokrasi. Di awal tahun, tepatnya pada Maret, sebanyak 30 partai politik telah menyerahkan lembar pendaftaran, termasuk Future Forward Party (Partai Masa Depan Maju) yang baru saja didirikan.

Partai baru pimpinan miliarder tampan berusia 39 tahun yang juga merupakan pengusaha Thanathorn Juangroongruangkit – keluarganya pemilik perusahaan manufaktur raksasa Thai Summit Group – juga didirikan pada bulan Maret itu.

Dengan sekitar 700 pendiri, partai ini terdiri dari akademisi muda, pengusaha, dan aktivis yang bertujuan untuk mengakhiri masa pemerintahan junta militer serta memulai serangkaian reformasi politik dan ekonomi.

Walaupun partai kecil, banyak penduduk Thailand melihat partai tersebut sebagai kekuatan alternatif ketiga selain partai tertua, Partai Demokrat (dengan dukungan dari wilayah selatan) dan partai mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, Partai Phue Thai, yang masih menguasai hampir seluruh wilayah utara dan wilayah persawahan padi Isaarn.

“Saya bergabung dengan Partai Masa Depan Maju pada Juni setelah teman saya Sunee mengajak bergabung. ‘Hi, saya punya pekerjaan buat kamu sebagai call center kami, datang dan bantulah kami,’ katanya. Saya ingin membantu menyelesaikan permasalahan negara ini – masalah politik, sosial… oleh karena itu saya bergabung,” kata Teerapon Thetkerd.

Lahir di Provinsi Chai Nat, hampir 200 kilometer di utara Bangkok, kesadaran politik Teerapon telah tergugah sejak dulu.

“Pada 2010, saya menonton siaran langsung konflik antara kelompok kaus merah dan kaus kuning di kanal People’s Television. Saya menyaksikan semua kekerasan itu dan bertanya-tanya, ‘Mengapa prajurit-prajurit itu mengikuti perintah untuk menembaki orang? Bahkan dilakukan di tengah jalanan Bangkok.’ Sejak itu, saya memutuskan untuk terlibat demi memperbaiki keadaan masyarakat,” kata Teerapon Thetkerd.

Baca juga: Di Thailand, Marquez Narik Bajaj dan Bonceng Nmax

Pada 2011, Teerapon menempuh studi Publik Administrasi di Universitas Srinakharinwirot, Bangkok. Seusai lulus pada 2015, ia bergabung dengan beberapa organisasi nirlaba, dari Greenpeace hingga Mirror Foundation, kebanyakan bekerja untuk membantu 3.249 tunawisma di Bangkok.

Sekarang, anggota Partai Masa Depan Maju fokus meningkatkan citra partai dan kesadaran warga Thailan terhadap isu-isu yang mereka anggap tidak adil.

“Kita perlu mencabut peraturan-peraturan seperti Pasal 44 (Konstitusi Sementara 2014), yang memperbolehkan pemerintah militer mengambil langkah apapun dengan alasan untuk ‘memperkuat persatuan dan harmoni publik’. Ini hanya alasan bagi pemerintah untuk berlaku semena-mena,” papar Teerapon Thetkerd.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik dengan Pakistan, India Langsung Menjawab

Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik dengan Pakistan, India Langsung Menjawab

Internasional
Jet Tempur Pasukan Khalifa Haftar Mendarat Darurat di Jalanan Tunisia

Jet Tempur Pasukan Khalifa Haftar Mendarat Darurat di Jalanan Tunisia

Internasional
Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik Kashmir India dan Pakistan

Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik Kashmir India dan Pakistan

Internasional
Trump: Jika Saya Mau Perang, Afghanistan Bisa Terhapus dari Muka Bumi Ini

Trump: Jika Saya Mau Perang, Afghanistan Bisa Terhapus dari Muka Bumi Ini

Internasional
Tinggal Seorang Diri, Pensiunan Ditemukan Telah Meninggal Selama 7 Bulan

Tinggal Seorang Diri, Pensiunan Ditemukan Telah Meninggal Selama 7 Bulan

Internasional
Trump Puji Peran Pakistan dalam Proses Perdamaian Afghanistan

Trump Puji Peran Pakistan dalam Proses Perdamaian Afghanistan

Internasional
Langgar Wilayah Udara Korea Selatan, Jet Tempur Rusia Disambut Tembakan Peringatan

Langgar Wilayah Udara Korea Selatan, Jet Tempur Rusia Disambut Tembakan Peringatan

Internasional
Berkomentar soal Menembak Anggota Kongres di Facebook, Seorang Polisi AS Dipecat

Berkomentar soal Menembak Anggota Kongres di Facebook, Seorang Polisi AS Dipecat

Internasional
Kim Jong Un Kunjungi Proyek Pembangunan Kapal Selam Korut

Kim Jong Un Kunjungi Proyek Pembangunan Kapal Selam Korut

Internasional
Iran Klaim Bongkar Jaringan Mata-mata AS, Ini 5 Faktanya

Iran Klaim Bongkar Jaringan Mata-mata AS, Ini 5 Faktanya

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

Internasional
2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

Internasional
Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Internasional
Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Internasional
Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Internasional
Close Ads X