Indonesia dan Vietnam, Siapa yang Ketinggalan?

Kompas.com - 08/10/2018, 11:27 WIB
Ilustrasi lalu lintas kota Hanoi. AsphaltandrubberIlustrasi lalu lintas kota Hanoi.

Pastinya, dibutuhkan lebih banyak penekanan pada pelatihan vokasional dan penempatan kerja berdasarkan kebutuhan spesifik industri tersebut.

Baca juga: Agar Tak Kalah dari Vietnam, Pembangunan Infrastruktur Mesti Terus Dilakukan

Isu  kedua adalah nasionalisme. Halangan berbisnis seperti ini lebih bersifat retorikal dan digunakan oleh pemain elite yang berkepentingan untuk mencegah kompetitor.

Menariknya di Indonesia, lebih dari 350 usaha di 16 sektor masuk dalam Daftar Negatif Investasi oleh Pemerintah. Sebagai pembanding, pemerintahan komunis Vietnam membatasi daftar serupa ke hanya 14 sektor strategis, yang mencangkup penyiaran, impor/ekspor, bandara, dan telekomunikasi.

Apapun pertimbangannya, para pemerintah perlu menyuarakan dengan jelas mengapa partisipasi asing dilarang di beberapa sektor tertentu, apakah lebih ke isu keamanan nasional (sektor pertahanan) atau lebih menjaga sektor dengan daya penyerapan pekerjaan tinggi (agrikultur dan pengolahan makanan)?

Isu yang ketiga adalah demokrasi. Di balik semua argumen oleh media barat yang liberal, kebanyakan investor tidak peduli terhadap demokrasi dan hak asasi manusia, itulah mengapa berbagai korporasi Amerika banyak yang masuk ke China selama beberapa dekade terakhir.

Perlu ditekankan dahulu perbedaan antara prinsip demokrasi dan kepastian hukum. Perusahaan multinasional lebih nyaman beroperasi di pasar yang menghormati kesucian kontrak dan memiliki sistem hukum yang tidak dapat dikorupsi (seperti Singapura).

Hal yang sama juga berlaku di Filipina dan Indonesia, di mana perusahaan dihantui oleh peraturan administratif yang menumpuk. Pemotongan birokrasi ini berdampak signifikan terhadap ekspansi bisnis.

Isu keempat – yang mungkin lebih abstrak – adalah mengenai ‘karakter’ dan ‘sejarah nasional’. Rakyat Vietnam hidup dalam perang selama lebih dari tiga puluh tahun – melawan aggressor dari Perancis, Amerika Serikat, dan China.

Reformasi ekonomi (disebut “Doi Moi”) baru diluncurkan pada 1986 di mana setelahnya negara tersebut tumbuh dengan cepat – dari PDB 36,65 miliar dollar AS di 1987 menjadi 223,8 miliar  dollar AS di 2017.

Terlihat beberapa dekade terakhir ini merupakan periode “mengejar” di mana generasi yang lebih muda menikmati manfaat dari sistem ekonomi yang secara jelas kapitalis.

Hal yang sama tak dapat dikatakan untuk Indonesia dan Filipina, di mana implementasi ekonomi “trickle-down” gaya Barat selama beberapa dekade masih menyisakan berjuta-juta orang miskin dan termarginalisasi.

Ada hampir 26 juta penduduk di Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ditambah dengan ketidakpercayaan terhadap Konsensus Washington – beberapa anjuran kebijakan ekonomi yang terlihat menjanjikan banyak, namun menghasilkan hanya sedikit.

Saat Presiden Donald Trump meneruskan serangannya terhadap China, para raksasa Asia Tenggara perlu mengambil keputusan berat untuk menarik investasi asing. Jika tidak, kesempatan historis ini akan tersia-siakan dan jutaan pekerjaan manufaktur akan hilang di Kawasan ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turki 'Sandera' Sekitar 50 Senjata Nuklir AS yang Tersimpan di Pangkalan Udara Bersama

Turki "Sandera" Sekitar 50 Senjata Nuklir AS yang Tersimpan di Pangkalan Udara Bersama

Internasional
Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Internasional
Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X