Kompas.com - 04/10/2018, 15:14 WIB
|

SARAJEVO, KOMPAS.com - Kontestasi politik menjelang pemilu yang diwarnai kebohongan ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia.

Di banyak negara, masa-masa menjelang pemilu memang digunakan para politisi untuk mengumbar janji yang seringkali tak terpenuhi saat mereka memenangkan pemilihan umum.

Hal serupa terjadi di Bosnia yang akan menggelar pemilihan umum pada Minggu (7/10/2018), yang membuat sebagian warga negeri itu muak.

Baca juga: Penjahat Perang Bosnia-Kroasia Tewas Minum Sianida

Bahkan warga  sebuah desa kecil dan miskin bernama Podgora sudah benar-benar muak terhadap janji politisi.

Alhasil, mereka melarang para politisi menggelar kampanye di desa tersebut.

"Kalian sudah bertahun-tahun membohongi kami. Tak ada partai politik boleh masuk ke Podgora!"

Pernyataan keras itu tertulis di sebuah spandung yang dibentangkan di alun-alun desa berpenduduk 700 orang yang hanya berjarak 30 kilometer dari ibu kota Sarajevo.

Pemilihan umum kali ini akan menentukan para pejabat yang menduduki posisi terpenting di Bosnia-Herzegovina.

Pejabat yang akan dipilih mulai dari lembaga kepresidenan berisi tiga orang hingga ke jabatan-jabatan lokal.

Namun, hanya sedikit warga negeri itu yakin akan terjadi perubahan signifikan di negara yang pada dasarnya masih lumpuh itu.

Kondisi tersebut sebagian disebabkan konflik yang tak terselesaikan sisa-sisa perseteruan etnis yang berpuncak pada Perang Bosnia pada 1990-an.

Perang itu menewaskan 100.000 orang dan memecah negeri itu menjadi dua daerah otonomi besar yang "dijaga" pemerintah pusat yang lemah.

Seperti sebagian besar warga Bosnia, rakyat desa Podgora juga sudah bosan dengan para politisi yang dikenal korup dan tak pernah menjalankan fungsinya.

"Cukup sudah semua kebohongan ini!" kata Adi Siladzic (47), saat ditanya alasannya mendukung penolakan terhadap para politisi.

Baca juga: Ratko Jagal Bosnia Mladic Divonis Penjara Seumur Hidup

"Kami sudah muak setiap kali mereka datang dengan segudang cerita hanya demi mendapatkan suara kami," tambah Siladzic.

"Dan, setiap kali, sehari setelah pemungutan suara, mereka sudah seperti tak pernah mengenal kami lagi," tambah pria pengangguran ini.

Halaman:
Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.