Kompas.com - 03/10/2018, 17:52 WIB

KOMPAS.com - Banyak orang di dunia kemungkinan besar pernah mendengar nama unik dari tokoh dunia satu ini, Helen Keller.

Buta dan tuli tak pernah menghentikannya untuk selalu berkarya, bahkan untuk menghasilkan buku.

Helen merupakan perempuan pertama yang tunanetra dan tunarungu, namun berhasil menjadi seorang penulis, aktivis politik, dan dosen.

Dia selalu dikenang sebagai contoh kekuatan besar terhadap advokasi bagi orang-orang dengan disabilitas.

Kelahiran

Helen Adams Keller lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat.

Ayahnya bernama Arthur Keller yang merupakan keturunan Kolonel Alexander Spottswood, seorang gubernur kolonial Virginia. Sementara sang ibu, Kate Adams Keller berasal dari keluarga Inggris terkemuka.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Mahatma Gandhi, Sang Jiwa Agung Pecinta Damai

Ayah Helen berprofesi sebagai kapten pasukan Konfederasi. Keluarganya kehilangan banyak kekayanaan pada masa Perang Saudara sehingga membuat mereka hidup sederhana.

Helen mulai berbicara sejak usia 6 bulan dan dapat berjalan pada usia satu tahun.

Pada usia 19 bulan, Helen menjadi buta dan tuli karena penyakit yang tidak diketahui, namun kemungkinan karena rubella atau demam scarlet.

Pada saat itu, dokter keluarganya menyebut penyakit yang menyerang Helen sebagai "demam otak" sehingga membuat suhu badannya tinggi.

Ibu Helen menyadari putrinya tidak bereaksi terhadap apa pun ketika bel makan malam berbunyi, atau lambaian tangan tepat di depan wajahnya.

Tumbuh kembangnya dibantu oleh putri bungsu koki di rumahnya, Martha Washington. Keduanya menciptakan metode terbatas untuk berkomunikasi.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Yip Man, Master Wing Chun Pelatih Bruce Lee

Mereka selanjutnya menemukan lebih dari 16 simbol komunikasi satu sama lain.

Namun Helen menjadi anak yang liar dan tidak patuh. Dia menendang dan berteriak ketika marah, serta cekikikan tak terkendali ketika merasa bahagia.

Helen Keller bersama dengan gurunya, Anne Sullivan. Helen Keller bersama dengan gurunya, Anne Sullivan.

Bertemu sang guru

3 Maret 1887 menjadi hari yang kelak akan mengubah hidup Helen saat dewasa. Hari itu, Anne Mansfield Sullivan tiba di Tuscumbia untuk menjadi gurunya.

Dia mengawali tugasnya dengan mengajarkan isyarat jari kepada Helen kecil, dimulai dengan kata "doll".

Kata itu dipilih untuk membantu Helen memahami hadiah yang selama ini dia bawa ke mana-mana, yaitu sebuah boneka.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.