Tiga Tahun di Suriah, Pasukan Rusia Tewaskan 18.000 Orang

Kompas.com - 02/10/2018, 18:26 WIB
Dalam foto yang diambil pada 16 Maret 2016 terlihat para personel militer Rusia memeriksa sebuah jet tempur Sukhoi Su-25 sebelum lepas landas dari Pangkalan AU Khmeimim di Latakia, Suriah. AFP/Russian Ministry of Defence/VADIM GRISHANKINDalam foto yang diambil pada 16 Maret 2016 terlihat para personel militer Rusia memeriksa sebuah jet tempur Sukhoi Su-25 sebelum lepas landas dari Pangkalan AU Khmeimim di Latakia, Suriah.
|

MOSKWA, KOMPAS.com - Sejumlah organisasi pejuang HAM menuduh Rusia telah menewaskan ribuan orang  sejak terlibat dalam perang saudara Suriah tiga tahun lalu.

Badan Pemantau HAM Suriah (SOHR) mengatakan, selama tiga tahun ini serangan udara dan artileri Rusia telah menewaskan 18.000 orang, termasuk hampir 8.000 warga sipil Suriah.

Sementara kelompok pemantau lainnya, Jaringan Suriah untuk HAM (SNHR) menyebut 6.239 warga sipil termasuk 1.804 anak-anak tewas akibat serangan militer Rusia.

Baca juga: Putin: Militer Rusia Ada di Suriah Selama Dibutuhkan

Angka-angka ini dimuat dalam sebuah laporan setebal 40 halaman yang dirilis pada Senin (1/10/2018).

Kremlin tidak membantah laporan sejumlah organisasi HAM itu. Kremlin malah mengatakan, pasukan Rusia menewaskan lebih banyak orang di Suriah.

Ketua komisi pertahanan parlemen Rusia Viktor Bondarev malah menyebut, pasukan negeri itu menewaskan 85.000 orang yang disebut sebagai teroris.

Rusia juga mengklaim tidak pernah membunuh satu pun warga sipil selama tiga tahun terlibat dalam konflik Suriah.

Sementara selama tiga tahun terakhir sebanyak 112 personel militer Rusia tewas. Angka itu tidak termasuk ratusan kontraktor swasta yang tewas dalam serangan udara AS tahun lalu.

Bondarev menambahkan, pengorbanan itu amat berharga karena Rusia memang bersiap untuk perang di masa depan dan memerintahkan militernya untuk bertarung.

"Kriteria paling penting dalam kecakapan militer bukan hanya soal kemenangan tetapi harga yang harus dibayar," ujar Bondarev kepada kantor berita Interfax.

Intervensi Rusia pada September 2015 mengubah jalannya perang karena kembali memberi keseimbangan di saat pasukan rezim Bashar al-Assad terlihat sudah di ambang kekalahan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Internasional
Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

Internasional
Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Internasional
Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Internasional
Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Internasional
Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Internasional
Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Internasional
Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Internasional
Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Internasional
Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Internasional
Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Internasional
Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

Internasional
Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X