Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 02/10/2018, 14:35 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengungkapkan kekecewaannya kepada pendahulunya, Najib Razak.

Diwartakan The Star Selasa Selasa (2/10/2018), Mahathir menyebut Najib berbeda dengan ayahnya, mendiang Perdana Menteri Abdul Razak Hussein.

Baca juga: Mahathir: Najib Razak Bakal Segera Dituntut Pengadilan

Abdul Razak yang menjadi perdana menteri kedua Malaysia, menjabat pada 22 September 1970 hingga meninggal dunia di 14 Januari 1976.

Berbicara selepas kunjungannya ke Inggris, Mahathir mengungkapkan Abdul Razak sangat memperhatikan nasib warga desa, dan pembangunan pedesaan.

Namun, sikap-sikap tersebut tak nampak dalam diri Najib selama dia berkuasa di Negeri "Jiran" pada April 2009 hingga 10 Mei 2018.

Menurut PM berusia 93 tahun itu, perbedaan sikap tersebut terjadi karena pemikiran "uang adalah raja". Dia menyebut jika punya uang, maka seseorang bisa melakukan apa saja.

"Namun sebaliknya. Jika kita tak punya uang, maka kita bisa mempunyai hasrat untuk mencurinya," tegas Mahathir dalam konferensi pers.

Mahathir juga mengaku kecewa dengan pemerintahan yang dijalankan Najib. Dia menyoroti adanya pegawai pemerintah yang juga ikut berkampanye.

Dia membandingkan pegawai pemerintah semasa menjabat di periode pertama antara 1981 hingga 2003. "Pegawai pemerintah berfungsi baik dengan fokus hanya di pemerintahan," tegas dia.

Lebih lanjut, Mahathir menyuarakan keyakinannya akan peluang Presiden Parti Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim dalam pemilihan parlemen kota Port Dickson 13 Oktober nanti.

Pemilihan Port Dickson menjadi ajang politik pertama Anwar setelah dia bebas dari penjara pasca-tuduhan sodomi yang diterimanya.

"Jika dia menang, maka secara otomatis dia bakal menjadi anggota parlemen," kata Mahathir yang berjanji bakal memberikan tampuk kekuasaan kepada Anwar setelah dua tahun menjabat.

Baca juga: Mahathir: Dakwaan untuk Menjerat Najib Sedang Disiapkan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.