Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biografi Tokoh Dunia: Lech Walesa, Mantan Presiden Polandia

Kompas.com - 26/09/2018, 21:48 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Lech Walesa merupakan seorang politisi sekaligus aktivis buruh di Polandia. Dia merupakan pendiri sekaligus pemimpin serikat buruh komunis independen Solidarnosc.

Dia dianggap sebagai tokoh yang menyingkirkan komunisme dan memperkenalkan demokrasi di Polandia, serta berjasa dalam pengurangan utang luar negeri.

Walesa juga adalah penerima penghargaan Nobel Perdamaian di 1983. Berikut merupakan biografi dari tokoh karismatik jutaan buruh di Polandia.

Baca juga: Inilah Tiga Senjata Legendaris Uni Soviet yang Ditakuti Nazi

1. Masa Kecil
Walesa lahir di Popowo, daerah pendudukan Nazi Jerman pada 29 September 1943. Ayahnya, Boleslaw Walesa adalah seorang tukang kayu.

Di 1961, Walesa lulus dari sekolah dasar dan sekolah vokasi dekat Chalin-Lipno sebagai teknisi listrik bersertifikasi.

Dia bekerja sebagai teknisi mobil di 1961-1965 sebelum menjalani wajib militer selama dua tahun, dan lulus dengan pangkat Kopral. Kemudian, dia bekerja di galangan kapal Lenin (sekarang Gdansk) 12 Juli 1967.

Di 8 November 1969, Walesa menikahi Miroslawa Danuta Golos yang bekerja di sebuah toko bunga dekat galangan kapal. Keduanya dianugerahi delapan anak.

Baca Juga: Lech Walesa Berkunjung ke Indonesia

2. Pergerakan Solidaritas
Saat karirnya tengah terbangun, Walesa begitu peduli terhadap isu-isu buruh. 1968, dia mengajak rekan-rekannya untuk memboikot aksi protes yang mengecam serangan kepada mahasiswa.

Karena karisma yang dimliki, dia menjadi pemimpin yang mengatur aksi protes ilegal di galangan kapal Lenin pada 1970.

Aksi protes dipicu adanya dekrit untuk menaikkan harga makanan. Saat itu, dia menjadi salah satu kandidat ketua aksi mogok.

Aksi mogok itu berakhir dengan korban tewas dari buruh sekitar 42 orang, dan sangat mengejutkan cara pandang Walesa akan perlunya perubahan.

Walesa dipecat pada Juni 1976 karena keterlibatannya dalam serikat ilegal, aksi mogok, dan kampanye mengenang korban aksi 1970.

Dia berganti-ganti pekerjaan karena dia selalu terlibat dalam berbagai aksi buruh. Karena namanya sudah masuk dalam daftar intelijen Polandia, dia pernah beberapa kali ditahan.

Baca Juga: Jalan Persatuan Lech Walesa

Di Juni 1978, dia menjadi aktivis gerakan bawah tanah Wolne Zwi?zki Zawodowe Wybrze?a. 14 Agustus 1980, dia kembali menggalang aksi mogok di Galangan Lenin.

Aksi mogok yang berawal dari galangan kapal kemudian merambat ke seluruh Gdansk, sebelum menyebar ke seantero Polandia.

Walesa menjadi Ketua Panitia Mogok Antar-Polandia yang mengoordinasi gerakan mogok baik di Gdansk maupun di 20 daerah lain.

Aksi itu memaksa pihak pemerintah, yang diwakili Mieczyslaw Jagielski, untuk menandatangani Perjanjian Gdansk di 31 Agustus 1980.

Perjanjian itu memberikan hak bagi pekerja Lenin untuk mogok dan membentuk serikat buruh independen, yang melahirkan Solidarnosc.

Walesa menjadi ketua organisasi itu hingga 13 Desember 1981 tatkala Presiden Polandia saat itu Wojciech Jaruzelski mengumumkan keadaan darurat negara.

Pengumuman itu memunculkan penangkapan terhadap sejumlah aktivis Solidarnosc, termasuk di antaranya Walesa, serta menyatakan Solidarnosc sebagai organisasi terlarang.

Walesa dipenjara selama 11 bulan hingga 14 November 1982 di Chylice, Otwock, dan Arlamow. 1983, dia kembali ke Gdansk sebagai teknisi.

Saat itu, dia mendapat penghargaan Nobel Perdamaian. Agustus 1988, dia adalah pemimpin dua aksi protes di galangan yang menuntut adanya proses transformasi di Polandia.

Komite Sipil yang dipimpinnya berkembang menjadi inisiatif politik dan ekonomi secara luas. Hasilnya, Solidarnosc dipulihkan secara hukum.

Di Agustus 1989, dia membujuk mantan tokoh Partai Komunis untuk membentuk koalisi pemerintahan non-komunis di Blok Uni Soviet.

Hasilnya adalah parlemen mengangkat Tadeusz Mazowiecki sebagai Perdana Menteri Polandia non-komunis pertama dalam 40 tahun terakhir.

Baca Juga: Lech Walesa: Hindarilah Konflik

3. Menjadi Presiden dan Lengser
Merasa tidak puas karena banyak koleganya cenderung bekerja sama dengan komunis, Walesa memutuskan untuk maju menjadi calon presiden.

Dia memenangkan pemilihan umum 9 Desember 1990 setelah mengalahkan Mazowiecki sebagai kepala negara terpilih pertama dalam 63 tahun sekaligus non-komunis pertama di 45 tahun terakhir.

Selama masa jabatannya, dia menerapkan Rencana Balcerowicz untuk melakukan transisi menuju ekonomi pasar bebas dan privatisasi.

Baca Juga: Presiden Terima Lech Walesa

Pada 1993, Walesa sukses melakukan negosiasi terkait penarikan pasukan Soviet yang sudah berada di Polandia sejak 1945.

Dia juga mendukung Polandia untuk masuk menjadi anggota Uni Eropa (UE) dan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Namun, pemerintahannya merosot karena dia tak mampu memenuhi ekspektasi publik yang dianggap "tak realistis". Puncaknya adalah ketika dia kalah di pemilu 1995.

4. Kehidupan Pasca-Presiden
Kalah di 1995, Walesa mengumumkan bahwa dia bakal kembali ke galangan kapal Gdansk sebagai teknisi. Namun, dia berubah pikiran dan memberi kuliah umum di berbagai negara.

Dia mendirikan Institut Lech Walesa dengan tujuan memopulerkan prestasi Solidarnosc, mengedukasi generasi muda, mempromosikasn demokrasi, dan kekuatan sipil.

Di pemilu 2000, Walesa sempat maju sebagai kandidat presiden. Namun, ambisinya kandas setelah dia hanya mampu 1,01 persen suara.

Sangat malu dengan pencapaiannya, Walesa mengumumkan dia benar-benar mundur dari politik, dan fokus kepada lembaga think tank yang didirikannya.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Uni Soviet Akui Dalangi Pembantaian Katyn

5. Walesa dan Kesepakatan Rahasia
Sejak awal 1980-an, terdapat kabar bahwa Walesa di periode 1970-an bertindak sebagai informan bagi Dinas Rahasia Polandia.

Walesa membantah tuduhan tersebut dan di 2000, pengadilan mengumumkan bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tak terbukti.

Kontroversi kembali mengemuka di 2008 di mana sebuah buku memaparkan Walesa, dengan nama sandi Bolek, bekerja sebagai penghubung antara 1970-1976.

Kabar itu makin kuat berhembus di Februari 2016 setelah Institut Peringatan Nasional menyita benda dari janda Czeslaw Kiszczak, mantan menteri dalam negeri, yang memperlihatkan Walesa adalah mata-mata.

Baca juga: Gelar Konser Perayaan Ultah Hitler, Dua Pria Polandia Ditahan

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com