AS Sodorkan Bukti Kekerasan Sistematis terhadap Warga Etnis Rohingya

Kompas.com - 25/09/2018, 08:12 WIB
Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017. Munir UZ ZAMAN / AFP Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017.

NEW YORK CITY, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat pada Senin (24/9/2018) mengklaim telah menemukan bukti adanya kekerasan sistematis oleh militer Myanmar terhadap etnis warga Rohingya.

AFP mewartakan, Kementerian Luar Negeri AS merilis laporan tersebut kepada PBB.

Kemenlu AS melakukan studi dengan mewawancarai 1.024 warga etnis Rohingya dewasa yang tinggal di pengungsian, di Bangladesh. Wawancara digelar pada April lalu.

Hasil penelitian tersebut konsisten dengan laporan dari kelompok hak asasi manusia. Namun, sebagian menilai bukti yang disodorkan AS masih tidak memihak korban.

Baca juga: Krisis Rohingya: Panglima Myanmar Sebut PBB Tak Berhak Ikut Campur

Laporan dari Kemenlu AS tidak menggunakan istilah genosida atau pembersihan etnis untuk menggambarkan pembunuhan massal terhadap Rohingya.

"Survei mengungkap ada kekerasan di negara bagian utara Rakhine secara ekstrem, berskala besar, meluas, dan tampaknya diarahkan untuk meneror penduduk dan mengusir warga Rohingya," demikian laporan dari Biro Intelijen dan Penelitian Kemenlu AS.

"Ruang lingkup dan skala operasi militer menunjukkan serangan yang terencana dan terkoordinasi dengan baik," tulis laporan itu.

Laporan tersebut juga memaparkan pelaku kekerasan menggunakan taktik sehingga korban semakin banyak, misalnya dengan mengunci warga di dalam rumah dan membakar mereka.

Taktik lain seperti memagari seluruh desa sebelum menembaki kerumunan warga, dan menenggelamkan perahu yang dipenuh ratusan penduduk yang berusaha kabur.

Laporan Kemenlu AS menyebut 82 persen pengungsi Rohingya menyaksikan langsung pembunuhan, dan 52 persen mengalami kekerasan seksual.

Saksi yang berasal dari beberapa desa yang berbeda juga melaporkan adanya pemerkosaan.

Militer mengumpulkan empat hingga lima atau bahkan 20 perempuan etnis Rohinya dan membawa mereka ke ladang, hutan, rumah, sekolah, masjid, atau jamban, kemudian memerkosa mereka secara beramai-ramai.

Baca juga: Mahkamah Kriminal Internasional Buka Investigasi Kasus Rohingya

"Banyak korban dilaporkan dibunuh setelah itu, tapi tidak semua kasus seperti itu," tulis laporan tersebut,

Lebih dari 700.000 warga etnis Rohingya kini mengungsi di Bangladesh. Mereka hidup dalam ketakutan jika dipulangkan kembali ke desa-desa di Myanmar.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengumumkan bantuan senilai 185 juta dollar AS atau Rp 2,7 triliun berupa makanan, air, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya kepada pengungsi Rohingya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Internasional
Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Internasional
Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Internasional
Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Internasional
Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Internasional
Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Internasional
Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Internasional
Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Internasional
Mengungsi ke Meksiko, Eks Presiden Bolivia Evo Morales Janji Kembali Lebih Kuat

Mengungsi ke Meksiko, Eks Presiden Bolivia Evo Morales Janji Kembali Lebih Kuat

Internasional
Dilarang Berhubungan Seks di Rumah, Pria Ini Bunuh Anjing Ibunya

Dilarang Berhubungan Seks di Rumah, Pria Ini Bunuh Anjing Ibunya

Internasional
Diperkosa Kakak Sendiri, Bocah 10 Tahun Hamil 8 Bulan

Diperkosa Kakak Sendiri, Bocah 10 Tahun Hamil 8 Bulan

Internasional
Dilecehkan 2 'Suami' di China, Gadis 13 Tahun asal Kamboja Diselamatkan

Dilecehkan 2 "Suami" di China, Gadis 13 Tahun asal Kamboja Diselamatkan

Internasional
Bantu Penyintas Gempa Filipina, Tim Dompet Dhuafa Bangun Huntara

Bantu Penyintas Gempa Filipina, Tim Dompet Dhuafa Bangun Huntara

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X