Serangan Udara Koalisi AS di Suriah Bunuh 3.300 Warga Sipil Sejak 2014

Kompas.com - 24/09/2018, 12:41 WIB
Kendaraan pasukan koalisi yang didukung AS melintas di jalanan di kota Manbij, selatan Suriah. AFP/DELIL SOULEIMANKendaraan pasukan koalisi yang didukung AS melintas di jalanan di kota Manbij, selatan Suriah.

LONDON, KOMPAS.com - Serangan udara yang dilancarkan koalisi pimpinan Amerika Serikat disebut telah menjadi penyebab kematian bagi 3.300 warga sipil di Suriah.

Jumlah tersebut terhitung sejak AS pertama kali melancarkan serangan udara ke Suriah dengan menargetkan kelompok ISIS pada 23 September 2014.

Demikian diungkapkan Observatorium Suriah untuk Hal Asasi Manusia, dalam laporannya yang dikutip The New Arab, Minggu (23/9/2018).

Koalisi AS mulai melancarkan serangan terhadap target kelompok teroris ISIS di Irak pada Agustus 2014, di mana organisasi itu memproklamirkan berdirinya kekhalifahan.


Jumlah yang disebutkan dalam laporan itu hampir tiga kali lebih besar dibandingkan klaim yang dirilis koalisi pimpinan AS, yang hanya mencatat sekitar 1.000 warga sipil tewas, baik di Suriah maupun Irak.

Baca juga: Koalisi AS Bunuh 150 Pejuang ISIS di Suriah

Washington juga mengatakan telah melakukan segala cara untuk menghindari jatuhnya korban sipil.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di London, Inggris, mencatatkan bahwa serangan udara koalisi ke Suriah telah membunuh 3.331 warga sipil.

Data tersebut diperoleh melalui jaringan sumber di dalam Suriah, serta melacak pola penerbangan, pesawat yang terlibat dan amunisi yang digunakan untuk menentukan pihak yang melakukan serangan.

"Di antara korban warga sipil yang tewas termasuk 826 anak-anak dan 615 perempuan," kata kepala Observatorium, Rami Abdel Rahman.

Sementara dalam laporan resmi yang dipublikasikan bulan lalu, koalisi AS mengatakan serangan yang mereka lancarkan telah secara tidak sengaja membunuh 1.061 warga sipil di Irak dan Suriah hingga 30 Juli 20918.

Koalisi juga masih menilai 216 laporan lanjutan terkait korban sipil dengan beberapa di antaranya adalah serangan yang dilancarkan pada 2014.

"Sejauh mana perbedaan dalam jumlah korban, koalisi telah mendasarkan pada temuan fakta dan bukti."

"Kami tidak mengklaim menyediakan angka pasti, tetapi mengatakan bahwa itu didasarkan pada bukti-bukti yang ada," kata Juru Bicara Koalisi AS Sean Ryan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik koalisi yang tidak mengupayakan mendapat data korban sipil secara lebih akurat.

Baca juga: Serbuan Rusia dan Koalisi AS ke ISIS Salah Alamat, 28 Warga Tewas

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Internasional
Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Internasional
Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Internasional
Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Internasional
Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Internasional
Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung 'Teroris' di Suriah

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung "Teroris" di Suriah

Internasional
Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X