15 September 1935 Ditetapkan Jadi Simbol Nazi Jerman, Ini 4 Fakta Swastika - Kompas.com

15 September 1935 Ditetapkan Jadi Simbol Nazi Jerman, Ini 4 Fakta Swastika

Kompas.com - 15/09/2018, 16:54 WIB
Ditaktor Jerman, Adlof Hitler, lebih memilih jamur, ketimbang sajian dari daging di akhir hidupnya. Selain itu, minyak biji rami dan kue menjadi santapannya di bunker Berlin. (Daily Mirror)
Ditaktor Jerman, Adlof Hitler, lebih memilih jamur, ketimbang sajian dari daging di akhir hidupnya. Selain itu, minyak biji rami dan kue menjadi santapannya di bunker Berlin. (Daily Mirror)

KOMPAS.com - Nama Adolf Hitler dicatat sejarah sebagai salah satu diktator yang saat berkuasa menghadirkan ketakutan, terutama di Eropa.

Dengan "berkendaraan" partai Nazi yang berhaluan nasionalis-sosialis, Hitler menginginkan hegemoni Jerman secara absolut di Eropa. Secara perlahan, veteran Perang Dunia I ini pun mulai bergerak menguasai negara di sekitarnya.

Ketika Adolf Hitler menjadi pemimpin yang menamakan diri Fuhrer, dia mulai mengubah semua yang ada. Doktrinasi mengenai keunggulan ras "Arya" sebagai nenek moyang bangsa Jerman yang melebihi ras negara lain, mulai ditanamkan.

Pada 15 September 1935, Nazi pun mengadopsi bendera baru dengan menampilkan lambang swastika. Bendera menggunakan latar berwarna merah dengan lingkaran putih di dalamnya, lengkap dengan gambar swastika.


Baca juga: Pengunjung Penjara Ditandai Pakai Cap Swastika Nazi, Sipir Pun Dipecat

Berikut sejumlah fakta mengenai "swastika":

1. Berasal dari bahasa Sanskerta

Dilansir dari Encyclopædia Britannica, Swastika berasal dari bahasa Sanskerta, "svastika" yang secara umum memiliki arti "kesejahteraan" dan "nasib baik".

Oleh karena itu, simbol ini menjadi paling disucikan dalam tradisi Agama Hindu.

2. Banyak arti

Selain sebagai kesejahteraan, lambang swastika juga memiliki makna beragam. Apabila lambang itu searah dengan jarum jam, maka bersifat mengandung kebaikan.

Pada sesi itu menandakan dan menggambarkan kehidupan manusia mengikuti aturan dan kebiasaan kehidupan yang berlaku di masyarakat pada umumnya.

Sedangkan apabila berlawanan dengan arah jarum jam, maka merupakan bentuk kejelekan/keburukan dan banyak digunakan oleh penyihir pada zaman dulu.

Dalam sesi ini, melambangkan kebiasaan atau kehidupan yang berbeda dari masyarakat pada umumnya. Artinya, setiap orang melakukan kebiasaan buruk yang bisa merugikan diri sendiri maupun masyarakat lain.

3. Tak hanya India

Selain dikenal sebagai simbol yang paling disucikan dalam agama Hindu di Inda, simbol ini juga dikenal di berbagai belahan dunia lain.

Lambang swastika telah ditemukan pada keramik yang berasal dari empat abad sebelum Masehi di Persia/Iran, kemudian di Troy Yunani, Tibet, dan Jepang.

Orang Indian Amerika Utara seperti Suku Navajo juga mengenal lambang ini, yang dapat ditemukan pada pola kerajinan manik-manik mereka.

Sedangkan bagi masyarakat Hindu, swastika diakui merupakan simbol Brahma sebagai dewa pencipta dan erat hubungannya dengan matahari.

4. Disalahgunakan Nazi

Swastika menjadi lambang yang menghadirkan ketakutan dan kebencian tersendiri ketika diadposi Jerman Nazi sebagai bendera negaranya.

Hitler menggunakannya untuk menggambarkan superioritas bangsa Arya. Saat itu, Nazi Jerman menggunakan lambang ini dengan miring ke kiri sekitar 45 derajat.

Ketiga warna dalam swastika, yaitu merah, putih, dan hitam, diambil dari warna dasar bendera Jerman, yang pertama kali dipakai sebagai lambang dari kekaisaran Jerman pada 1897.

Nazi Jerman kemudian dilekatkan dengan sejumlah aksi kejam terhadap masyarakat Yahudi di Eropa. Ini menyebabkan lambang swastika yang semula bermakna baik dan positif berubah 180 derajat menjadi lambang yang diidentikkan dengan kekejaman.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

Jelang Pemilu, Sudin Dukcapil Jakarta Timur Lakukan Perekaman e-KTP ke Sejumlah Sekolah

Jelang Pemilu, Sudin Dukcapil Jakarta Timur Lakukan Perekaman e-KTP ke Sejumlah Sekolah

Megapolitan
Bertingkah Laku Buruk, Keluarga Turis Inggris Dideportasi dari Selandia Baru

Bertingkah Laku Buruk, Keluarga Turis Inggris Dideportasi dari Selandia Baru

Internasional
Kasus Penguasaan Lahan, Hercules dan Anggotanya Jalani Sidang Dakwaan

Kasus Penguasaan Lahan, Hercules dan Anggotanya Jalani Sidang Dakwaan

Megapolitan
Sebar Hoaks yang Meresahkan, Pemuda Ini Dibekuk Polda Gorontalo

Sebar Hoaks yang Meresahkan, Pemuda Ini Dibekuk Polda Gorontalo

Regional
Kuasa Hukum Plt Kepala BPPKAD Gresik Sebut Uang Potongan Insentif oleh Kliennya untuk Biaya Kegiatan

Kuasa Hukum Plt Kepala BPPKAD Gresik Sebut Uang Potongan Insentif oleh Kliennya untuk Biaya Kegiatan

Regional
Polisi Tangkap Aris Indonesian Idol Terkait Kasus Narkoba

Polisi Tangkap Aris Indonesian Idol Terkait Kasus Narkoba

Megapolitan
Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Megapolitan
Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Nasional
Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Internasional
Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Nasional
Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Regional
Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Nasional
Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Internasional
Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Nasional
Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Nasional

Close Ads X