Gara-gara Kaus, Empat Warga Thailand Ditahan atas Tuduhan Penghasutan

Kompas.com - 14/09/2018, 17:09 WIB
Jinda Achariyasilp (55) pemilik usaha garmen yang ditahan bersama dengan ratusan kaos berlambang gerakan Federasi Thailand.BANGKOK POST / SUPPLIED Jinda Achariyasilp (55) pemilik usaha garmen yang ditahan bersama dengan ratusan kaos berlambang gerakan Federasi Thailand.

BANGKOK, KOMPAS.com - Militer Thailand telah menahan empat orang yang dituduh melakukan tindak penghasutan dan mempromosikan republikanisme melalui kaus.

Penangkapan dilakukan sejak 6 September lalu saat pihak berwenang menemukan seorang wanita dengan 400 kaos berlambang gerakan "Federasi Thailand".

Kelompok Federasi Thailand diketahui berusaha mengubah sistem monarki konstitusional yang dijalankan di negara kerajaan ini menjadi republik.

Republikanisme dianggap sebagai hal yang tabu di Thailand dan membahasnya dianggap sebagai kritik terhadap monarki yang dapat diancam dengan hukuman 15 tahun penjara.


Thailand memiliki hukum lese majeste yang tegas menindak siapa pun yang dianggap menghina raja atau pun keluarga kerajaan dan dilabeli sebagai tindakan pengkhianatan.

Baca juga: Dihukum karena Ganggu Upacara Kuil, Siswa Biksu di Thailand Tewas

Melansir Bangkok Post, Jinda Achariyasilp (55), seorang wanita pemilik usaha yang memproduksi dan mendistribusikan kaos, ditahan setelah kedapatan menjual kaus untuk gerakan Federasi Thailand. Dia ditangkap di kediamannya di Provinsi Chonburi.

Sementara tiga orang lainnya yang ditahan telah dibebaskan dengan membayar jaminan, menurut perwakilan Pengacara untuk Hak Asasi Manusia di Thailand.

Meski demikian ketiganya tetap diwajibkan hadir di persidangan di mana jaksa akan memutuskan apakah mereka akan didakwa atau dibebaskan.

"Keempat tersangka dituduh telah melakukan hasutan dan perkumpulan ilegal. Pelanggaran yang masing-masing diancam hukuman penjara maksimal tujuh tahun," kata pengacara Pawinee Chumsri.

Aktivitas politik telah dilarang di Thailand sejak 2014 saat kudeta militer menggulingkan pemerintah sipil dan dengan kerajaan bersiap untuk menggelar pemilihan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, pihak berwenang telah meningkatkan tekanan terhadap para aktivis.

Gerakan Federasi Thailand tidak memiliki bentuk kehadiran yang nyata di negara kerajaan itu dan lebih aktif di dunia maya dengan dukungan dari warga Thailand yang tinggal di luar negeri.

Wakil Perdana Menteri Prawit Wongsuwan menyampaikan bahwa kelompok itu terpusat di Laos dan memiliki hubungan dengan seorang aktivis yang melarikan diri dari Thailand karena tersangkut tuduhan lese majeste.

"Tapi kelompok itu tidak memiliki pengaruh dan hanya mencoba menghasut orang-orang di media sosial dengan paham separatisme dan mencoba membuat republik baru," ujarnya.

Baca juga: Pengadilan Thailand Penjarakan Mantan Biksu Selama 114 Tahun

Menurut perwakilan Human Rights Watch, Sunai Phasuk mengatakan, meski pihaknya tidak terlalu mengetahui tentang kelompok itu, para tersangka dianggap tidak melakukan tindakan kekerasan dan masih tergolong tindakan damai.

"Pemerintah harus menahan diri dan mereka tidak harus sampai menekan dengan tuduhan serius seperti penghasutan," kata Sunai.

Sementara Kementerian Pertahanan mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki tujuan Federasi Thailand dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

Internasional
2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

Internasional
Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Internasional
Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Internasional
Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Internasional
Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Internasional
Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Internasional
Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Internasional
Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Internasional
India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

Internasional
Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Internasional
Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Internasional
China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

Internasional
Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Internasional
Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan 'Negara Asing'

Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan "Negara Asing"

Internasional
Close Ads X