Kompas.com - 12/09/2018, 17:35 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. AFP/FABRICE COFFRINIMenteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

VLADIVOSTOK, KOMPAS.com - Rusia mengecam kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang disebut lebih mendahulukan menjatuhkan sanksi daripada melakukan perundingan.

Rusia termasuk salah satu negara yang kerap mendapat sanksi keras dari AS, terutama setelah pencaplokan Krimea pada 2014 dan mendukung pemberontak separatis di timur Ukraina.

Dalam beberapa bulan terakhir, AS bahkan telah memberlakukan saksi baru atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden dan keterlibatan dalam serangan racun saraf terhadap mantan agen di Inggris.

"Dalam banyak kasus AS bahkan tidak mau bernegosiasi," kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, di sela-sela forum ekonomi di kota Vladivostok, pada Rabu (12/9/2018).

Baca juga: AS Ancam Beri Sanksi kepada Mahkamah Kriminal Internasional

"Pertama mereka akan mengumumkan pemberian sanksi, kemudian lebih banyak sanksi dan hanya setelah itu mereka baru mulai membuka pembicaraan," tambahnya dilansir AFP.

Lavrov memperingatkan bahwa kebijakan seperti itu tidak akan dapat menghasilkan kesuksesan jangka panjang.

Menurut Lavrov, "kebijakan sanksi" AS tidak hanya dalam hubungannya dengan Rusia, namun juga dapat dilihat dalam hubungan Washington dengan Pyongyang dalam mendesak denuklirisasi Semenanjung Korea dan Beijing dalam perang dagangnya dengan China.

AS pada bulan lalu telah kembali menjatuhkan sanksi kepada Rusia yang disebut berada di belakang percobaan pembunuhan menggunakan racun saraf terhadap mantan agen ganda Sergei Skripal dan putrinya Yulia.

Sanksi yang dijatuhkan termasuk menghentikan bantuan asing ke Rusia, menghalangi penjualan barang dan jasa yang terkait dengan pertahanan serta melarang dukungan kredit pemerintah untuk ekspor ke Rusia.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 16 Juli lalu di Helsinki, Finlandia.

Trump bahkan sempat menyebutkan bahwa pertemuannya dengan Putin yang membahas isu Ukraina hingga Suriah itu sebagai salah satu yang paling berkesan baginya.

Baca juga: Putin: Sanksi AS Kontraproduktif dan Tak Masuk Akal



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X