Seorang Senator AS Yakinkan Trump Dukung Plot Pembunuhan Kim Jong Un

Kompas.com - 12/09/2018, 11:48 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun.AFP PHOTO/THE STRAIT TIMES/KEVIN LIM Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Seorang senator Amerika Serkat (AS) berusaha meyakinkan Presiden Donald Trump untuk melenyapkan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un.

Dilansir The Independent Selasa (11/9/2018), kabar itu berhembus dari buku Fear: Trump in the White House yang ditulis jurnalis terkemuka Bob Woodward.

Dalam buku tersebut, terjadi pertemuan antara Trump dengan Menteri Pertahanan James Mattis dan Penasihat Keamanan saat itu, HR McMaster di September 2017.

Baca juga: Otak Plot Pembunuhan Nelson Mandela Dipenjara 35 Tahun


Hadir dalam pertemuan tersebut adalah senator Partai Republik yang berasal dari Carolina Selatan, Lindsey Graham.

Sebelumnya, Korut melakukan uji coba rudal balistik antar-benua (ICBM) baru, yang membuat Trump menjuluki Kim sebagai "Pria Roket".

Dalam pidatonya di PBB, presiden 72 tahun itu mengancam bakal menghancurkan Korut jika terus melakukan aksi provokatif.

Di pertemuan tersebut, Graham mengajukan ide kepada Trump; mendesak pemerintah China untuk membunuh Kim.

Sebagai gantinya, Beijing bakal menempatkan seorang jenderal yang bisa mereka pengaruhi di negara komunis tersebut.

Dalam wawancara dengan Today di Agustus 2017, Graham membahas adanya opsi militer yang dipertimbangkan AS ke Korut.

"Menghancurkan nuklir Korut, atau melenyapkan negara itu sendiri. Jika ribuan tewas, mereka tewas di sana, bukan di sini. Dan dia (Trump) sudah berkata kepada saya," ujar Graham.

Senator 63 tahun dalam buku Woodward juga mendesak pemerintahan Trump untuk mengambil aksi lebih tegas di Afghanistan.

Kepada Trump, Graham berujar apakah sang presiden bersedia jika catatan prestasinya ternoda oleh kebijakan di Afghanistan.

"Apakah Anda bakal membiarkan Afghanistan kembali ke masa kelam seperti dulu, sehingga tragedi 9/11 berulang?" tanya Graham.

Baca juga: Surati Trump, Kim Jong Un Inginkan Pertemuan Bersejarah Jilid II

"Kalau begitu, bagaimana akhirnya?" respon Trump. "Tak pernah berakhir. Ini adalah pertarungan antara baik melawan jahat," jelas Graham kembali.

Sejak buku itu muncul di hadapan publik, Trump langsung bereaksi dengan menyebut apa yang ditulis Woodward murni fiksi.

Pemerintahannya dalam dua bulan terakhir harus berjibaku dengan sejumlah isu yang melibatkan internal Gedung Putih.

Terakhir adalah sebuah opini New York Times dengan penulis mengaku sebagai staf Gedung Putih. Opini itu menyebut adanya usah mengaktifkan Amandemen Ke-25.

Amandemen tersebut menjadi jalan untuk menyingkirkan Trump karena merasa kepemimpinannya berbahaya bagi masa depan AS.

Baca juga: Kisah Mata-mata Pasang Perekam di Penis Saat Bertemu Ayah Kim Jong Un

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

Internasional
2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

Internasional
Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Internasional
Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Internasional
Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Internasional
Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Internasional
Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Internasional
Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Internasional
Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Internasional
India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

Internasional
Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Internasional
Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Internasional
China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

Internasional
Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Internasional
Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan 'Negara Asing'

Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan "Negara Asing"

Internasional
Close Ads X