Kompas.com - 07/09/2018, 22:23 WIB

 

3. Kematian Sun Yat-sen dan "Long March"

12 Maret 1925, Sun meninggal dunia di Beijing. Penggantinya, Chiang Kai-shek, menjadi Ketua Kuomintang.

Berbeda dengan Sun, Chiang lebih konservatif dan tradisional. April 1927, dia memutus hubungan, dan memulai pembersihan terhadap anggota komunis.

September 1927, Mao memimpin pasukan petani melawan Kuomintang, namun dengan mudah dikalahkan sehingga mereka melarikan diri ke Provinsi Jiangxi.

Di sana, Mao membantu pendirian Republik Soviet China. Dia membentuk gerilyawan yang kuat. Dia memerintahkan penyiksaan dan eksekusi bagi siapapun yang melawan.

Baca juga: Stalin Mata-matai dan Menganalisis Tinja Mao Zedong

14 Oktober 1934, Pasukan Merah berkekuatan 85.000 orang 15.000 kader partai melakukan Long March untuk menghindari kejaran pasukan Kuomintang.

Selama 12 bulan, mereka bergerilya menuju Yanan yang berada di kawasan utara China. Saat itu, diperkirakan hanya tersisa 30.000 orang.

Di sana, Mao berorasi lantang, dan meyakinkan bahwa komunis berhasil menghindari pemusnahan yang dilakukan Kuomintang.

Orasinya membuat banyak orang mulai bermigrasi ke Yanan, dan mengajukan diri sebagai relawan karena reputasi Mao sebagai salah satu pemimpin komunis top.

4. Naiknya Mao dan Pembentukan Republik Rakyat China

Juli 1937, militer Kekaisaran Jepang menginvasi China yang memaksa Chiang Kai-shek mengungsi ke Nanking.

Pasukan Kuomintang yang kehilangan sejumlah kawasan utama membuat mereka membentuk persekutuan dengan partai komunis.

Mao diangkat sebagai pemimpin militer. Sikap Jepang yang dianggap brutal membuat banyak orang bergabung dengan Pasukan Merah.

Di Agustus 1940, Mao memerintahkan Serangan Ratusan Resimen di mana 400.000 pasukan menyerang Jepang di lima provinsi secara simultan.

Serangan itu terbukti sukses dengan 20.000 tentara Jepang terbunuh, gangguan pada jalur kereta, dan kehilangan tambang batu bara.

Dengan berakhirnya Perang Dunia II melalui kekalahan Jepang di 1945, Mao berhasil menanamkan kendali di seluruh China.

Baca juga: China Bangun Patung Raksasa Mao Zedong Berlapis Emas

Perang sipil kembali berlanjut dengan Kuomintang mendapat bantuan dari AS, sementara Soviet menyokong pasukan Mao.

21 Januari 1949, tentara Kuomintang menderita kekalahan besar menghadapi pasukan Mao, dan memaksa Chiang beserta pengikutnya pindah ke Formosa (Taiwan).

Pada 1 Oktober 1949, Mao mengumumkan berdirinya Republik Rakyat China, dan mengambil tempat tinggal di bangunan dekat Kota Terlarang, Zhongnanhai.

Selama beberapa tahun ke depan, dia mengorganisir reformasi tanah, baik melalui cara persuasi maupun paksaan.

Dia mempromosikan status perempuan, menggandakan populasi warga terdidik, meningkatkan minat literasi, dan mengembangkan layanan kesehatan.

Namun, reformasinya tidak begitu sukses di perkotaan. Di 1956, Mao melancarkan Kampanye Ratusan Bunga.

Melalui kebijakan itu, setiap warga berhak mengutarakan pendapatnya. Mao berharap dia hanya menerima sedikit kritikan.

Namun, kenyataannya dia menerima banyak kecaman dari kalangan intelek kota. Takut kehilangan kekuasaan, dia melabeli penentang sebagai "kaum kanan", dan menangkap mereka.

Baca juga: China Peringati Ulang Tahun ke-120 Mao Zedong

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.