Pelajaran Menulis Paling Berharga dari Peraih Nobel Sastra VS Naipaul - Kompas.com

Pelajaran Menulis Paling Berharga dari Peraih Nobel Sastra VS Naipaul

Kompas.com - 04/09/2018, 19:45 WIB
 V.S. Naipaul, peraih nobel sastra, meninggal dunia pada 11 Agustus 2018 di usia ke-85.AFP PHOTO / RAVEENDRAN V.S. Naipaul, peraih nobel sastra, meninggal dunia pada 11 Agustus 2018 di usia ke-85.

DIA adalah sosok yang telaten. Santun dan sabar. Ia duduk bersama narasumbernya dengan buku catatan yang terbuka, mengajukan pertanyaan, menyelidiki secara perlahan tapi pasti –menggali setiap detail secara personal dan intim.

Ia tidak menggunakan alat perekam. Ia menulis semuanya – kalimat per kalimat.
Proses yang melelahkan. Setiap kalimat ia catat lengkap.

Ia ingin mendengarkan semuanya – sebuah kisah kehidupan dari masa lampau, melibatkan beragam kota dan negara, mengenai para ayah yang keras kepala dengan banyak keluarga dan kakek nenek imigran – hingga buku catatannya penuh.

Mengutip Wikipedia, Vidiadhar Surajprasad Naipaul atau yang lebih sering dikenal sebagai VS Naipaul (lahir di Chaguanas, Trinidad dan Tobago, 17 Agustus 1932, meninggal di London, Inggris, pada 11 Agustus 2018 di usia 85 tahun.

Ia adalah seorang penulis Karibia keturunan India-Nepal penerima Penghargaan Nobel yang lahir di Trinidad dengan kewarganegaraan Britania.

Baca juga: 100 Hari Pakatan Harapan Memimpin Malaysia Baru

Pada 1990, ia dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth. Ia menerima Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 2001. Horace Engdahl yang menyampaikan pidato penghargaan, mendeskripsikan Naipaul sebagai “kolektor testimoni”.

Sir Vidia inilah yang saya temui 23 tahun lalu, ketika ia melakukan riset di Malaysia untuk sekuel dari buku perjalanan dunia Muslim-nya, Among the Believers: An Islamic Journey.

Karena dialah, lebih tepatnya dari caranya dalam bekerja, begitu berdampak dalam dan meninggalkan kesan abadi pada cara saya menulis.

Saya tidak menemaninya ke seluruh wawancaranya. Hanya ketika ia membutuhkan penerjemah. Ia dapat memahami mereka yang berbahasa Inggris.

Saya sering meninggalkan mereka untuk berbicara, kadang selama berjam-jam dan kembali ketika selesai.

Ia seakan-akan membenamkan diri ke dalam hidup mereka, mengumpulkan cerita – warna dan nuansa – sampai ia tenggelam, terbebani, dan hampir lenyap oleh tiap rincian yang detail.

Beberapa tahun kemudian ketika saya membaca bukunya Finding the Centre: Two Narratives (esai yang menjelaskan caranya meneliti dan menulis), saya mulai mengerti bahwa pendekatannya – pencarian tak berujung akan suatu tatanan atau pusat atau rumah – adalah dasar pencariannya tentang kebenaran.

Ini juga mengungkapkan sisi lembut yang mengejutkan – kerendahan hati seorang pria yang pada saat itu memiliki reputasi yang tidak tertandingi karena mudah tersinggung dan cenderung mementingkan diri sendiri.

Kenyataanya adalah, VS Naipaul menyukai setiap orang. Ia menemukan ketenangan dalam cerita mereka.

Baca juga: Evolusi Musik Molam di Tengah Pusaran Politik Thailand

Apa yang ia tak sukai adalah kekakuan dari teori, sistem, dan filosofi keagamaan yang ditegakkan oleh orang-orang dalam kehidupan mereka. Ia sangat mengutuknya.

Novelnya yang paling sukses mengisahkan tentang Mohun Biswas dan Salim, pedagang dari pesisir timur Afrika, yang mencoba menegaskan kemerdekaan dan integritas mereka di tengah sistem yang mendikte dan tak kenal ampun.

Ketika saya memperhatikannya berkelakar tentang cerita, pengamatan, pemahaman, dan emosi dari teman bicaranya, saya mulai menyadari signifikansi dan maksud atas apa yang segala ia lakukan.

Bagi VS Naipaul, sang penulis, hal itu cukup mudah. Ia mempunyai target: memahami lalu menulis tentang negeri-negeri Muslim non-Arab ini. Untuk itu, ia mengumpulkan semua cerita dan narasi yang dapat membantunya ‘membaca’ tanah yang asing ini.

Namun ia tidak senantiasa hanya menanyakan tentang iman dan kepercayaan mereka. Detail rinci tentang keseharian dan kebiasaan dalam hidup penduduk lokal memberikannya sebuah fondasi yang darinya dibangun narasi dan argumen.

Dengan ‘menelan’ kehidupan dan ‘menyerap’ kisah sumbernya, ia dapat memahami dunia mereka luar dalam.

Saat saya pertama kali menemuinya di Kuala Lumpur pada tahun 1990-an, saya sudah mulai menulis kolom saya ‘Ceritalah’. Setelah mengamati caranya membangun materi, saya tersadar bahwa saya sendiri ternyata juga melakukan hal yang sama, terutama karena saya mulai lebih sering bepergian di sekitar Asia Tenggara.

Saya bosan mendengarkan politisi dan sosok terkenal. Capek terhadap narasi mereka yang dibentuk dengan hati-hati. Saya hanya ingin duduk bersama petani, pekerja pabrik, dan pegawai kantoran – mendengarkan kehidupan mereka.

Ketertarikan inilah yang membuat saya menerapkan pendekatan ground up yang sekarang menjiwai kolom saya.

Saya berhutang budi pada sosok penerima nobel sastra ini. Saya sendiri kagum bagaimana ia bisa sangat tertarik mendengarkan beragam kisah-kisah tersebut.

Kalau boleh jujur, segmen tentang Malaysia dari buku Beyond Belief: Islamic Excursions among the Converted Peoples (buku yang kemudian ia tulis berdasarkan perjalanan yang saya dampingi), cukup campur aduk.

Saya merasa segmen tersebut ‘berantakan’ karena peran saya menyemangati ketertarikannya untuk bercerita sampai pada titik ia kehilangan minat (atau fokus) terhadap tujuan awalnya: mengisahkan perkembangan gelombang Islamisasi global.

Mungkin di waktu yang akan datang, orang-orang juga akan menilai tulisan saya ‘berantakan’ karena obsesi terhadap kisah-kisah orang yang sampai ‘menggeser’ narasi secara menyeluruh.

Namun, bukankah memang itu intinya?


Komentar
Close Ads X