PBB Didesak Larang Penggunaan "Robot Pembunuh" dalam Peperangan

Kompas.com - 31/08/2018, 16:20 WIB
Sebuah drone tempur terparkir di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, pada 2009. ThinkstockSebuah drone tempur terparkir di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, pada 2009.

JENEWA, KOMPAS.com - Negara-negara di dunia didesak untuk segera menyepakati perjanjian yang melarang penggunaan apa yang disebut sebagai robot pembunuh sebelum terlambat.

Disampaikan organisasi non-pemerintah, Amnesty International, waktu semakin dekat sebelum senjata-senjata mematikan itu dikirimkan ke medan peperangan.

Organisasi itu pun mengkritik langkah badan PBB, Konvensi Persenjataan Konvensional Khusus (CCW), yang dinilai bergerak terlalu lambat.

" Robot pembunuh saat ini sudah tidak lagi hanya sekadar fiksi ilmiah," kata Rasha Abdul Rahim, penasihat Amnesty International bidang kecerdasan buatan dan hak asasi manusia.


Baca juga: Kim Jong Un Ingin Ganti Buruh Pabrik dengan Robot

"Dari drone (pesawat nirawak) dengan kecerdasan buatan dan dilengkapi senapan otomatis yang mampu memilih target sendiri, kemanjuan teknologi persenjataan kini mulai jauh melampaui hukum internasional," lanjutnya dilansir dari AFP.

"Karena itulah kami menyerukan kepada negara-negara untuk mengambil langkah nyata demi menghentikan penyebaran senjata mematikan ini sebelum terlambat," katanya menegaskan.

Komentar Amnesty International tersebut datang saat para pakar pemerintahan tentang sistem senjata otonom mematikan di CCW mulai menggelar pertemuan selama sepekan di Jenewa sejak Senin (27/8/2018).

Badan PBB itu telah menggelar perundingan robot pembunuh yang pertama tahun lalu. Ketua CCW, Amandeep Gill, yang juga duta perlucutan senjata India, mengatakan bahwa pembicaraan telah membawa kemajuan yang baik sejak saat itu.

Meski demikian negara-negara anggota belum mencapai kesepakatan tentang langkah yang akan diambil untuk menangani senjata-senjata tersebut.

Jumlah negara-negara yang menyerukan larangan terhadap penggunaan robot pembunuh sebagai senjata telah mengalami peningkatan. Saat ini disebutkan sedikitnya 26 negara telah mendukung pelarangan tersebut.

Tetapi negara-negara yang diyakini memiliki senjata otonom paling maju, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Israel belum mencapai komitmen untuk bentuk mekanisme pembatasan penggunaannya.

Keputusan diharapkan dapat tercapai pekan ini atau pada konferensi CCW yang lebih luas pada November mendatang.

Tetapi persyaratan untuk tercapainya sebuah konsensus dikhawatirkan dapat menjadi batu sandungan.

Baca juga: China Kembangkan Robot Burung untuk Keperluan Mata-mata

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Internasional
Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Internasional
Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Internasional
Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Internasional
Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Internasional
Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Internasional
Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Internasional
Baku Tembak 'Panas' Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Baku Tembak "Panas" Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Internasional
Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

Internasional
Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Internasional
Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Internasional
Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko, 6 Orang Tewas

Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko, 6 Orang Tewas

Internasional
DPR AS Bakal Rilis 2 Pasal Pemakzulan Trump, Apa Saja?

DPR AS Bakal Rilis 2 Pasal Pemakzulan Trump, Apa Saja?

Internasional
Berhubungan Seks di Mobil, Pasangan di Ukraina Ditembak dan Dikubur Hidup-hidup oleh Pencuri

Berhubungan Seks di Mobil, Pasangan di Ukraina Ditembak dan Dikubur Hidup-hidup oleh Pencuri

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X