Kompas.com - 23/08/2018, 18:11 WIB
Seorang demonstran duduk sambil memegang bendera Palestina setelah aksi melawan perampasan tanah Palestina untuk memperluas pemukiman Yahudi Hallamish (latar belakang), Jumat (28/8/2015), di Desa Nabi Saleh, Tepi Barat, dekat Ramallah. AFP PHOTO / ABBAS MOMANISeorang demonstran duduk sambil memegang bendera Palestina setelah aksi melawan perampasan tanah Palestina untuk memperluas pemukiman Yahudi Hallamish (latar belakang), Jumat (28/8/2015), di Desa Nabi Saleh, Tepi Barat, dekat Ramallah.

TEL AVIV, KOMPAS.com - Anggota parlemen Israel mengusulkan untuk dibuatnya undang-undang yang melarang pengibaran bendera Palestina di wilayah Israel dengan hukuman satu tahun penjara.

Anat Berko, anggota parlemen dari partai sayap kanan yang berkuasa, Likud, menyerahkan rancangan undang-undang tersebut pada Rabu (22/8/2018). Demikian diberitakan surat kabar, Israel Hayom.

"Bendera milik entitas musuh tidak dapat diizinkan untuk berkibar di ruang publik Israel. Kita tidak dapat mentolerir hal itu," kata Berko dilansir The New Arab.

Pemungutan suara parlemen untuk rancangan undang-undang tersebut akan digelar pada Oktober mendatang.

Baca juga: PBB Pastikan Sekolah untuk Anak Pengungsi Palestina Segera Dibuka

Berko, yang merupakan pendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa pemerintah telah menjamin bakal mendukung rancangan undang-undang tersebut dan akan bekerja untuk mempercepat proses di legislatif.

Usulan rancangan undang-undang tersebut muncul setelah sebelumnya parlemen Israel mengesahkan undang-undang negara Yahudi, yang memicu unjuk rasa puluhan ribu warga Palestina.

Sejumlah klausul yang terkandung dalam undang-undang kontroversial tersebut menjadi sumber keprihatinan.

Warga Palestina beranggapan undang-undang tersebut tidak menggambarkan persamaan dan demokrasi, serta menyiratkan jika penduduk Yahudi Israel lebih diutamakan.

Salah satu bagian mengacu bahwa Israel sebagai tanah air bersejarah kaum Yahudi dan mereka memiliki hak unik untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Sementara, bagian lainnya mendefinisikan pembentukan komunitas Yahudi sebagai kepentingan nasional, serta menjadikan bahasa Ibrani satu-satunya bahasa resmi dan menurunkan bahasa Arab menjadi status khusus.

Pekan ini, Presiden Palestina Mahmoud Abbas berjanji akan mengajukan banding atas undang-undang tersebut kepada PBB.

Baca juga: 3 Warga Israel Ditikam Remaja Palestina di Tepi Barat, 1 Orang Tewas



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X