Taliban Siap Hadiri Pembicaraan Damai dengan Afghanistan di Rusia

Kompas.com - 22/08/2018, 16:40 WIB
Anggota Taliban di Distrik Shindand, provinsi Herat, Afghanistan, 27 Mei 2016. AP PHOTOAnggota Taliban di Distrik Shindand, provinsi Herat, Afghanistan, 27 Mei 2016.

MOSKWA, KOMPAS.com - Moskwa mengklaim kelompok Taliban bakal hadir dalam pertemuan membahas perdamaian dengan pemerintah Afghanistan yang akan diselenggarakan di Rusia, awal bulan depan.

Disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Moskwa telah mengundang pihak Taliban untuk perundingan pada 4 September mendatang dan mengaku telah mendapat respon positif.

"Sambutan pertama cukup positif, mereka berencana untuk ambil bagian dalam pertemuan tersebut," kata Lavrov, Selasa (21/8/2018).

Lavrov menegaskan, kontak Rusia dengan Taliban lebih bertujuan untuk menjamin keselamatan warganya yang tengah berada di Afghanistan.


Baca juga: Rusia Siapkan Pembicaraan Damai antara Afghanistan dengan Taliban

Pemerintah Rusia bersama dengan sekutunya juga terus mendorong kepada kelompok gerilyawan tersebut untuk menurunkan senjata, menghindari pertempuran dan melakukan dialog dengan Kabul.

Klaim Moskwa itu didukung pernyataan seorang pejabat senior Taliban yang mengungkapkan bakal mengirim delegasinya ke Rusia demi mencapai perdamaian di Afghanistan.

Taliban bahkan disebut berencana mengirimkan perwakilan ke negara-negara lain, termasuk Pakistan dan China.

"Hal itu untuk meyakinkan dan mengatasi kekhawatiran mereka," kata pejabat Taliban tersebut dilansir The New Arab.

Ditambahkannya, Taliban juga telah secara rutin menggelar pertemuan dengan pejabat negara-negara Eropa di kantor politik mereka di Qatar.

"Kami terus menjalin kontak dengan semua negara tetangga," ujar pejabat itu dengan syarat anonim karena dirinya tidak berwenang berbicara kepada media.

Kementerian Luar Negeri Rusia, dalam pernyataannya, menyampaikan bahwa pertemuan di bulan September yang akan diselenggarakan di Moswa tersebut juga akan dihadiri oleh perwakilan dari China, Pakistan, Iran dan India.

Baca juga: Presiden Afghanistan Serukan Gencatan Senjata selama Tiga Bulan dengan Taliban

"Pertemuan tersebut untuk membantu dalam memajukan proses rekonsiliasi nasional di Afghanistan dan membangun perdamaian di negara itu sesegera mungkin," kata kementerian dalam pernyataannya.

Selain itu, Rusia juga telah mengundang AS untuk turut mengirim perwakilannya.

Taliban telah lama mendesak untuk pembicaraan langsung dengan AS dan menolak bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan yang mereka anggap tidak sah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X