Rusia Bakal Kirim Sistem Rudal S-400 ke Turki pada 2019

Kompas.com - 22/08/2018, 15:26 WIB
Sistem pertahanan anti-serangan udara bikinan Rusia, S-400.Sputnik/Alexey Malgavko Sistem pertahanan anti-serangan udara bikinan Rusia, S-400.

MOSKWA, KOMPAS.com - Produsen sistem pertahanan anti-serangan udara S-400 dari Rusia mengumumkan bakal melakukan pengiriman ke Turki tahun depan.

CEO Rosoboronexport, Alexander Mikheev menyatakan, ketika meneken kontrak penjualan dengan Turki, terdapat tenggat waktu yang harus segera ditepati.

"Di 2019, kami bakal melaksanakan kontrak tersebut," kata Mikheev kepada Interfax via media Turki Hurriyet Selasa (21/8/2018).

Baca juga: Rusia Harap Kontrak Penjualan S-400 dengan India Rampung Tahun Ini

Turki telah menyepakati pembelian sistem rudal tersebut dengan membayar uang muka 2,5 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 36,5 triliun.

Pejabat anonim Turki menuturkan, sistem pertahanan berkode NATO Sa-21 Growler itu sudah siap digunakan di Juli 2019.

Rosoboronexport melanjutkan, dalam pembayarannya, Turki mengusahakan agar Rusia bersedia menggunakan mata uang mereka, lira.

Langkah tersebut dilakukan menyusul merosotnya lira hingga 40 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2018 ini.

S-400 adalah sistem rudal yang bisa merontokkan pesawat tempur lawan dari jarak 400 kilometer dan rudal balistik dari jarak 60 kilometer.

Sistem tersebut terdiri dari radar multifungsi, sistem pendeteksi mandiri, rudal anti-serangan udara, tabung peluncur, dan kendaraan komando.

S-400 mampu menembakkan empat jenis rudal, tergantung target yang dihadapi, untuk memberikan pertahanan berlapis.

Pada April lalu, pejabat militer anonim berujar, pasukan Rusia mendapat rudal jenis baru yang bisa menghancurkan sasaran di orbit rendah.

Sebuah unit S-400 dapat mendeteksi target dari jarak 600 kilometer, dan mampu menghancurkan 36 sasaran secara simultan.

Sistem pertahanan ini diklaim dua kali lebih efektif dari pendahulunya, S-300, dan bisa disiagakan hanya dalam waktu 5 menit.

Dikembangkan sejak akhir 1980-an, S-400 mengalami penyempurnaan proyek pada Februari 2004. Kemudian pada 2007, sistem itu diaktifkan secara resmi.

Setiap rudal yang ditembakkan dari sistem itu bisa melaju hingga 14 kali kecepatan suara, dan diklaim lebih hebat dari sistem pertahanan milik AS, Patriot.

Pembelian yang dilakukan Turki membuat AS maupun Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meradang.

Senat AS bahkan mengancam tidak akan menjual jet tempur generasi kelima, F-35, kepada Turki jika masih ngotot membeli S-400.

Baca juga: Penjualan Sistem Rudal S-400 Rusia ke Turki Bencana bagi AS



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X