Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/08/2018, 07:40 WIB

ANKARA, KOMPAS.com - Pengadilan Turki dilaporkan menolak permintaan bebas yang diajukan pendeta Amerika Serikat (AS) yang ditahan sejak 2016.

Dilansir Hurriyet Jumat (17/8/2018), Pengadilan Pidana Ketiga di Izmir menolak permintaan yang diajukan Andrew Brunson.

Pengacara Brunson, Ismail Cem Halavurt, memasukkan permohonan itu pada Selasa (14/8//2018), atau sepekan setelah permintaan sebelumnya ditolak.

Baca juga: Trump Frustrasi Pendeta AS Tak Kunjung Dibebaskan Turki

Dengan demikian, pendeta berusia 50 tahun itu tetap berstatus tahanan rumah, dan juga dikenakan larangan bepergian.

Pendeta Gereja Presbyterian itu menjadi pusat ketegangan yang terjadi antara AS dan Turki yang berlangsung selama tiga pekan terakhir.

Brunson yang tinggal di Izmir selama 23 tahun ditangkap ketika sedang mengurus statusnya sebagai warga tetap Turki pada 7 Oktober 2016.

Dia dituduh terlibat dalam Pergerakan Gulen, kelompok yang dituduh bertanggung jawab atas upaya kudeta terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Washington melalui Wakil Presiden Mike Pence mendesak agar Brunson dibebaskan, dengan Presiden Donald Trump mengancam bakal memberi sanksi jika Turki tak melakukannya.

Karena Ankara tetap bersikeras dengan keputusannya, Gedung Putih mengumumkan sanksi terhadap dua menteri yang dianggap bertanggung jawab atas penahanan Brunson.

Tidak hanya itu, Trump juga mengumumkan menggandakan tarif masuk untuk produk aluminium dan baja Turki.

Keputusan presiden 72 tahun itu membuat mata uang Turki, lira, anjlok hingga 16 persen pada pekan lalu dibanding dolar AS.

Erdogan meradang, dan mengajak rakyatnya melakukan aksi balasan dengan menyerukan boikot terhadap produk elektronik Negeri "Paman Sam".

Sambil menyebut anjloknya lira merupakan skenario politik licik, dia mengajak warga Turki untuk menjual dolar serta mata uang zona Eropa, euro.

Baca juga: AS Siap Jatuhkan Sanksi Lagi ke Turki jika Pendetanya Tak Dibebaskan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber Hurriyet
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.