Kompas.com - 13/08/2018, 22:23 WIB

5. Kudeta 1999 dan Berkuasanya Musharraf
Pada akhir September, para pejabat di Markas Staf Gabungan (JS HQ) bertemu komandan regional untuk membahas kemungkinan kudeta.

Untuk mendinginkan rumor perseteruannya dengan Musharraf, Sharif memutuskan memperpanjang masa jabatannya pada 30 September 1999.

Namun di 12 Oktober 1999, Sharif berencana melengserkan Musharraf sebagai panglima angkatan bersenjata Pakistan.

Kebetulan, saat itu Musharraf pergi pada akhir pekan untuk menghadiri peringatan 50 tahun militer Sri Lanka.

Baca juga: Jenderal Musharraf Didakwa Berkhianat

Ketika hendak pulang dari Colombo, izin mendarat pesawat yang ditumpanginya ditolak oleh Bandara Karachi. Diduga, perintah itu datang dari kantor PM.

Di tengah perintah memblokir penerbangan Musharraf, Sharif saat itu bersiap melantik Khwaja Ziauddin sebagai pengganti Musharraf.

Para loyalis Musharraf mendengar kabar itu, dan komandan lokal mulai mengerahkan pasukannya ke Islamabad melalui Rawalpindi.

Mereka mengepung Sharif dan menjadikannya tahanan rumah. Saat itu, Sharif secara rahasia memerintahkan agar penerbangan Musharraf dialihkan ke India.

Namun, rencana tersebut digagalkan oleh pasukan loyalis yang melakukan pengepungan menara pengontrol lalu lintas Karachi.

Pada 13 Oktober 1999 pukul 02.50, Musharraf memberikan pernyataan publik yang sebelumnya sudah direkam.

Dia bertemu Presiden Rafiq Tarar untuk mencoba memengaruhinya memberi dukungan atas kudeta tersebut.

Di 15 Oktober 1999, dia mendeklarasikan status darurat, menangguhkan konstitusi dan mengangkat dirinya sebagai Ketua Eksekutif.

Musharraf mulai melakukan pembersihan lawan politik. Termasuk di antaranya adalah Ziauddin dan Ketua Penerbangan Nasional Shahid Khaqan Abbassi.

Dua hari kemudian, dia memberikan pidato keduanya, dan mengumumkan pendirian dewan militer-sipil untuk memimpin Pakistan.

Baca juga: Pakistan Cabut Status Tahanan Rumah Pervez Musharraf

6. Sharif Diadili dan Diasingkan
Polisi Militer menempatkan Sharif sebagai tahanan rumah di guesthouse pemerintah, serta membuka kediamannya di Lahore untuk umum di akhir Oktober 1999.

Pada November 1999, dia dituduh melakukan pembajakan, penculikan, pembunuhan berencana, dan pengkhianatan karena menolak penerbangan Musharraf di Karachi.

Sharif mulai disidang pada Maret 2000 di pengadilan anti-terorisme. Di persidangan, dia bersaksi Musharraf mulai merencanakan kudeta pasca-insiden Kirgil.

Salah satu pengacara Sharif, Iqbal Raad, ditembak mati di Karachi pada pertengahan Maret, Sharif menuduh Musharraf tidak memberikan perlindungan bagi kuasa hukumnya.

Sumber di Pakistan menyatakan, saat itu pemerintahan militer Musharraf berencana menjatuhkan hukuman mati kepada Sharif.

Tapi, rencana itu ditentang oleh Arab Saudi dan AS. Dua negara itu menyarankan agar Sharif dijatuhi hukuman pengasingan.

Sharif menyetujuinya. Pada Desember 2000, dia dan keluarganya menerima syarat Musharraf untuk dibuang di Saudi.

Baca juga: Musharraf Bebas Bersyarat dalam Kasus Penyerbuan Masjid Merah

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.