Pengadilan New Delhi Putuskan Mengemis Tidak Melanggar Hukum

Kompas.com - 09/08/2018, 19:47 WIB
Pengemis.Thinkstock Pengemis.

NEW DELHI, KOMPAS.com - Sebuah pengadilan di New Delhi, India membatalkan undang-undang yang mengkriminalisasi pengemis.

Keputusan inii menjadi sebuah kemenangan para aktivis yang sejak lama menganggap aturan ini tak lebih dari serangan terhadap warga miskin.

Dalam keputusan yang dibacakan pada Rabu (8/8/2018), pengadilan tinggi New Delhi memutuskan beberapa bagian dari  undang-undang itu dinilai inkonstitusional.

Baca juga: Setahun Bebas dari ISIS, Pengemis Anak Penuhi Jalanan Mosul di Irak

"Orang mengemis di jalan bukan karena mereka ingin mengemis, tetapi karena mereka terpaksa mengemis. Mengemis adalah cara terakhir mereka bertahan hidup," ujar Hakim Tinggi Gita Mittal dan Hakim Hari Shankar saat membacakan amar putusan setebal 23 halaman itu.

"Mengkriminalisasi pengemis adalah pendekatan salah untuk menghadapi masalah mendasar dan melanggar hak masyarakat yang paling rentan," tambah kedua hakim.

India tidak memiliki undang-undang federal yang mengatur masalah kemiskinan dan pengemis.

Sebanyak 20 negara bagian mengadopsi Undang-undang Pencegahan Pengemis Bombay 1959 yang mengancam para pengemis dengan hukuman penjara 3-10 tahun.

Para aktivis HAM menganggap undang-undang ini terlalu luas mendefinisikan pengemis sehingga polisi bisa menangkap siapa saja yang dinilai sebagai orang miskin atau tunawisma.

"Undang-undang anti-pengemis ini adalah satu-satunya aturan yang amat represif terhadap warga miskin di sebuah negara yang tak memiliki jaring pengaman sosial," ujar Harsh Mander, aktivis yang menentang undang-undang ini.

"Kami amat puas dengan keputusan pengadilan ini dan berharap negara-negara bagian akan melaksanakan keputusan pengadilan," tambah Mander.

Baca juga: Belum Genap Sepekan Ramadhan, Polisi UEA Tangkap 91 Pengemis

Di New Delhi tercatat 46.727 orang tunawisma menurut sensus 2011. Namun, diyakini jumlah sesungguhnya jauh lebih tinggi.

Tanpa tempat penampungan yang memadai, ribuan tunawisma ini terpaksa tinggal di bawah jembatan layang atau di trotoar.

"Alhasil, mereka ini amat rentan mendapatkan perlakuan kasar dari aparat keamanan," tambah Mander.




Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Iran: Trump Harus Tahu Kita Tak Hidup di Abad 18

Iran: Trump Harus Tahu Kita Tak Hidup di Abad 18

Internasional
Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Internasional
Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Internasional
Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Internasional
Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Internasional
Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Internasional
Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Internasional
Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Internasional
Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Internasional
'Candy Bomber', Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

"Candy Bomber", Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

Internasional
Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Internasional
Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Internasional
Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

Internasional
Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Internasional

Close Ads X