AS Berlakukan Sanksi Baru untuk Rusia Terkait Kasus Racun Saraf

Kompas.com - 09/08/2018, 08:15 WIB
Pihak berwenang mengamankan bangku dengan menutupnya pakai tenda. Bangku tersebut merupakan lokasi di mana mantan agen Rusia Sergei Skripal dan putrinya ditemukan tak sadarkan diri, di Salisbury, Inggris. (PA via AP)
Pihak berwenang mengamankan bangku dengan menutupnya pakai tenda. Bangku tersebut merupakan lokasi di mana mantan agen Rusia Sergei Skripal dan putrinya ditemukan tak sadarkan diri, di Salisbury, Inggris. (PA via AP)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (8/8/2018) mengumumkan sanksi baru kepada Rusia atas kasus dugaan percobaan pembunuhan terhadap mantan mata-mata di Inggris, dengan menggunakan racun saraf mematikan.

Mantan agen ganda Rusia di Inggris, Sergei Skripal, dan putrinya bernama Yulia, menjadi target serangan racun saraf Novichok pada Maret lalu.

Setelah melewati masa kritis selama beberapa pekan di rumah sakit, keduanya dapat kembali beraktivitas.

Baca juga: Inggris Sebut Rusia Telah Memata-matai Agen Skripal Selama Lima Tahun


Melansir dari AFP, juru bicara Kemenlu AS Heather Nauert mengatakan, pemberlakuan sanksi tersebut untuk memberi efek jera pemerintahan Presiden Vladimir Putin yang melanggar hukum internasional karena memakai senjata biologi.

"Rusia telah menggunakan senjata kimia atau senjata biologi yang melanggar hukum internasional, atau telah menggunakan senjata kimia atau biologi yang mematikan terhadap warganya sendiri," katanya.

Sanksi terbaru tersebut tidak dirilis secara terperinci, namun akan berlaku sekitar 22 Agustus 2018.

BBC melaporkan, sanksi itu terkait dengan ekspor komponen elektronik yang sensitif dan teknologi lainnya.

Sanksi lebih kejam bahkan akan menyusul dalam 90 hari, apabila Rusia gagal memberi jaminan tidak akan lagi menggunakan senjata kimia. Selain itu, Rusia harus menerima inspeksi langsung oleh PBB.

Berdasarkan investigasi, Inggris menyalahkan Rusia atas serangan racun saraf yang menimpa Skripal dan putrinya. Namun, pemerintah Rusia membantah keras tuduhan itu.

Baca juga: Perempuan Inggris Terpapar Racun Saraf Novichok Usai Semprotkan Parfum

Pemerintah Inggris menyambut baik keputusan AS terkait pemberian sanksi baru terhadap Rusia.

"Respons kuat internasional terkait penggunaan senjata kimia di jalan Salisbury (Inggris) mengirimkan sebuah pesan tegas kepada Rusia atas tindakan provokatif dan sembrono," demikian pernyaaan Kemenlu Inggris.

Sanksi kali ini bukanlah satu-satunya yang diberikan AS untuk Rusia.

Pada Juni lalu, AS menampar Rusia dengan sanksi terhadap lima perusahaan "Negeri Beruang Merah" itu dan tiga individu warga negara Rusia terkait kasus serangan siber.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC,AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak 'Panas' di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak "Panas" di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

Internasional
Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Internasional
Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Internasional
Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Internasional
Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Internasional
Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Internasional
Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Internasional
Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Internasional
Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Internasional
Baku Tembak 'Panas' Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Baku Tembak "Panas" Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Internasional
Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

Internasional
Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Internasional
Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X