100 Tahun Nelson Mandela dan Kenangan akan Sosoknya... - Kompas.com

100 Tahun Nelson Mandela dan Kenangan akan Sosoknya...

Kompas.com - 18/07/2018, 19:32 WIB
Nelson MandelaAFP/Alexander Joe Nelson Mandela

JAKARTA, KOMPAS.comNelson Mandela, tokoh anti-apartheid Afrika Selatan, lahir 100 tahun lalu, tepatnya 18 Juli 1918, di Mvezo, sebuah daerah di Provinsi Eastern Cape, Afrika Selatan.

Nama lahirnya adalah Rolihlahla Mandela.

Hari ini, Rabu (18/7/2018), peringatan seabad kelahiran Nelson Mandela. 

Unggahan oleh para netizen dari seluruh dunia bertagar #Mandela mewarnai linimasa Twitter.

Mereka mengenang sosok Mandela sebagai tokoh penting dalam persamaan hak kaum kulit hitam dan kulit putih.

Salah satu twit datang dari Biko, @mduzuma2.

"#Mandela is the only black man who is celebrated by white people all over the world," tulisnya.

Twit lain berasal dari Dani Mattei @daniDpVox.

"'It always seems impossible until it's done.' 100 years ago #OnThisDay a hero of freedom was born... Happy Birthday #Madiba (1918-2018) #Bono, #TheEdge & #NelsonMandela #AntonCorbijn#MandelaDay#Mandela#Madiba100#NelsonMandelaDay#NelsonMandela100#Mandela100 @U2," tulis @daniDpVox.

Bagaimana sosok Mandela?

Dikutip dari laman nelsonmandela.org, nama "Nelson" merupakan nama yang diberikan oleh gurunya, Mdingane, saat Mandela duduk di bangku sekolah dasar.

Mandela merupakan anak dari pasangan Nonqaphi Nosekeni dan Nkosi Mphakanyiswa Gadla Mandela.

Ia mendapatkan gelar Bachelor of Art (BA) dari University of South Africa pada 1943. Sebelumnya, ia mengenyam pendidikan di University Collefe of Fort Hare, tetapi dikeluarkan karena mengikuti demo mahasiswa.

Baca juga: Nelson Mandela di Mata Generasi Muda: Dipuja Maupun Dicela

Mandela, yang berprofesi sebagai seorang pengacara di Johannesburg, kemudian aktif terlibat dalam pergerakan anti apartheid sejak usia 20-an. Ia bergabung dalam Kongres Nasional Afrika pada 1942.

Selama 20 tahun, ia memimpin kampanye perdamaian, menolak kekerasan dari kebijakan rasis Pemerintah Afrika Selatan.

Pada 1962, Mandela dihukum seumur hidup karena pernah meninggalkan negara secara ilegal dan didakwa tindakan sabotase.

Selama di penjara, kehidupan Mandela sangat dikekang. Ia tinggal di sel tanpa tempat tidur dan sanitasi yang baik.

Mandela hanya diperkenankan menulis dan menerima surat setiap 6 bulan sekali dan hanya boleh dikunjungi selama 30 menit setiap tahunnya.

Mendapatkan perlakuan tersebut, Mandela tidak lantas menyurutkan semangatnya. Dia tetap memimpin pemberontakan sipil dari dalam sel.

Hasilnya, ada peningkatan fasilitas di rumah tahanan yang ia tempati, yakni Penjara Pulau Robben.

Mandela dinyatakan bebas pada 11 Februari 1990 karena hukumannya ditangguhkan oleh Presiden Afrika Selatan saat itu, F.W. de Klerk yang juga menentang politik apartheid dari pemerintahan sebelumnya.

Pada 1993, Mandela bersama dengan Klerk dianugerahi Nobel Perdamaian atas usaha mereka membongkar sistem apartheid negara.

Mandela merupakan presiden kulit hitam pertama yang dipilih melalui cara demokratis.

Ia dilantik pada 10 Mei 1994 dan pada 1999, Mandela mengundurkan diri karena memenuhi janjinya hanya menjabat 1 periode.

Nelson Mandela sangat kukuh terhadap perjuangan demokrasi dan kesetaraan. Dia tidak pernah membalas kejahatan rasisme dengan tindak kekerasan.

Hidupnya menjadi inspirasi bagi semua orang yang mengalami penindasan, demikian pula mereka yang teguh melawan segala bentuk penindasan.

Berikut salah satu kalimat yang diucapkan Mandela dalam pidatonya pada 20 April 1964:

Saya telah berjuang melawan dominasi kaum putih, dan saya telah berjuang melawan dominasi kaum hitam.Saya mengedepankan demokrasi dan masyarakat dimana semua orang hidup berdampingan dengan memiliki kesempatan yang setara. Itu cita-cita yang saya harap dapat terus hidup dan tercapai. Jika diperlukan, saya siap mati untuk cita-cita itu.

Mandela meninggal dunia pada 5 Desember 2013 pada usia ke-95 tahun di kediamannya, di Johannesburg.

Kepergiannya menjadi duka internasional. Dunia kehilangan pahlawan penyetara hak-hak kelompok kulit hitam dan kulit putih.

Kompas TV Seorang warga bernama Tom Morgan ingin terbang melintasi langit Afrika Selatan bermodalkan balon



Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X