Kompas.com - 17/07/2018, 15:43 WIB

Pada saat yang sama, seorang penjelajah asal Inggris, Robert Falcon Scott juga dilaporkan sedang melakukan ekpedisi menuju Kutub Selatan.

Namun dalam perjalanannya, Amundsen dapat mendirikan pos yang lebih dekat sekitar 100 kilometer dari kutub dibandingkan dengan tim Scott.

Amundsen juga telah melakukan persiapan yang lebih matang, salah satunya dengan menggunakan kereta luncur anjing untuk membawa perbekalan di atas permukaan daratan es. Sementara Scott masih bergantung pada kuda poni Siberia.

Amundsen melanjutkan perjalanan darat dengan menggunakan empat kereta luncur yang ditarik 52 anjing dan ditemani empat orang rekan.

Berangkat pada 19 Oktober 1911, perjalanan Amundsen didukung cuaca cerah dan akhirnya berhasil tiba di Kutub Selatan pada 14 Desember.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Amelia Earhart, Pionir Dunia Penerbangan

Setelah mengumpulkan data ilmiah di Kutub Selatan selama tiga hari, tim Amundsen melakukan perjalanan kembali ke kapal dan sampai di Teluk Paus pada 12 Januari 1912.

Sementara tim ekspedisi Scott meski sama-sama dapat mencapai Kutub Selatan pada 17 Januari 1912, namun dalam perjalanan kembali mereka dihadang cuaca buruk sehingga akhirnya tewas.

Keberhasilan mencapai Kutub Selatan dengan data ilmiah yang diperolehnya, Amundsen mampu menarik banyak sponsor untuk mendanai bisnis pelayaran. Dia mendapatkan sebuah kapal baru yang diberi nama Maud.

Meski telah berhasil mencapai Kutub Selatan, hasrat menjelajah Amundsen tak serta merta padam. Pada 1918, dia berniat untuk meneruskan misinya yang belum tercapai, yakni menuju Kutub Utara.

Namun rencana menjelajah menggunakan kapal layar ia batalkan dan mempertimbangkan untuk menempuh jalur udara.

Akhirnya pada 1925, dengan ditemani Lincoln Ellswoth, pilot Hjalmar Riiser-Larsen dan tiga anggota tim lainnya, Amundsen bertolak menuju Kutub Utara dengan menggunakan dua pesawat terbang mesin ganda, Dornier Do J.

Perjalanan lewat udara itu tiba hingga titik berjarak 250 kilometer dari Kutub Utara, jarak terdekat yang bisa dicapai menggunakan pesawat pada saat itu.

Setelah perjalanan tersebut, Amundsen resmi menjadi orang pertama di dunia yang telah menjejakkan kakinya di dua kutub Bumi.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Joan of Arc, Sang Dara Penakluk Pasukan Inggris

Akhir Kehidupan

Pada 18 Juni 1928, Amundsen bersama lima orang kru terbang kembali untuk melakukan misi penyelamatan di Arktik. Mereka melakukan pencarian kru Nobile yang hilang dalam perjalanan kembali dari Kutub Utara.

Namun pesawat Latham 47 yang digunakan Amundsen tidak pernah kembali dari misinya. Hanya potongan sayap apung dan tangki bahan bakar yang kemudian ditemukan di pantai Tromso.

Diduga pesawat yang membawa Amundsen beserta krunya jatuh akibat kabut di Laut Barents, menewaskan seluruh penumpang.

Upaya pencarian sempat dilakukan oleh pemerintah Norwegia, namun dihentikan pada September 1928. Jenazah para kru termasuk Amundsen tidak pernah ditemukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.