Kompas.com - 15/07/2018, 10:21 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan APEC di Danang, Vietnam pada 11 November 2017. AFP/MIKHAIL KLIMENTYEVPresiden AS Donald Trump (kiri) berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan APEC di Danang, Vietnam pada 11 November 2017.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Juri Agung AS secara resmi mengajukan tuntutan terhadap 12 perwira intelijen Rusia dengan tuduhan telah mengganggu pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016.

Tuntutan tersebut diajukan pada Jumat (13/7/2018) lalu, hanya berselang tiga hari sebelum agenda pertemuan Presiden Donald Trump dengan Vladimir Putin yang dijadwalkan digelar Senin (16/7/2018) besok di Helsinki, Finlandia.

Diumumkan oleh Wakil Jaksa Agung, Rod Rosenstein, tuduhan tersebut dibuat oleh Penasihat Khusus Robert Mueller, mantan direktur FBI yang telah menyelidiki kasus dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan November 2016.

Baca juga: Trump: Putin adalah Kompetitor Bukan Musuh

"Para perwira militer Rusia itu dituduh telah berkomplot untuk mempengaruhi proses pemilihan presiden 2016, termasuk telah meretas akun email milik Partai Demokrat menjelang pemungutan suara," kata Rosenstein kepada wartawan, dikutip AFP.

"Di antara para tertuduh, 11 orang dituduh bekerja sama untuk meretas komputer, mencuri dokumen dan merilis dokumen dengan tujuan mempengaruhi pemilihan."

"Sedangkan seorang dari para tertuduh tersebut bersama dengan orang ke-12 dituduh bekerja sama untuk menyusup ke komputer milik organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan pemilihan," tambahnya.

Rosenstein juga mengatakan, pihaknya sebelumnya telah memberi pengarahan kepada Presiden Trump mengenai tuntutan yang akan diajukan, termasuk fakta-fakta dan bukti yang ada.

Sementara mengenai kemungkinan keterlibatan warga AS dalam kasus ini, Rosenstein menambahkan, mereka tidak mengetahui jika telah berhubungan dengan agen intelijen Rusia.

Menyusul diumumkannya tuntutan tersebut, sejumlah pejabat tinggi dari Partai Demokrat mendesak agar Trump membatalkan agenda pertemuannya dengan Putin.

Baca juga: Jelang Pertemuan Trump-Putin, Finlandia Larang Polisi Berlibur

Meski ada desakan pembatalan, Gedung Putih menegaskan pertemuan yang ditetapkan akan digelar di ibu kota Finlandia itu akan tetap dilaksanakan.

Trump pada Sabtu (14/7/2018) merespon pengumuman tuntutan tersebut dengan twit yang menyalahkan pemerintahan sebelumnya.

"Mengapa tidak ada tindakan yang diambil, terutama ketika hal itu telah dilaporkan kepada Presiden Obama oleh FBI pada bulan September, sebelum pemilihan?" tulis Trump.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X