Kompas.com - 12/07/2018, 13:26 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri), dan Presiden Korea Selatan Moon Jae In berpegangan tangan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea di Panmunjom, Jumat (27/4/2018). AFP/KOREAN BROADCASTING SYSTEMPemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri), dan Presiden Korea Selatan Moon Jae In berpegangan tangan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea di Panmunjom, Jumat (27/4/2018).

SEOUL, KOMPAS.com - Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae In memastikan masa depan keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di negerinya.

Diwartakan Yonhap Kamis (12/7/2018), Moon menegaskan pasukan AS bakal tetap berada di Korsel meski nanti Korea Utara (Korut) melucuti nuklirnya.

Dalam wawancara dengan Straits Times, Moon berkata dia bisa memahami keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 12 Juni.

Baca juga: Jaga Diplomasi dengan Pyongyang, Korsel Tangguhkan Latihan Pertahanan Sipil

Saat itu, Trump bertemu Pemimpin Korut Kim Jong Un di Singapura, dan meneken deklarasi antara lain denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Sebagai balasannya, Trump mengumumkan bakal menghentikan latihan perang gabungan dengan Korsel yang biasanya digelar tahunan.

Dia berujar, saat ini Semenanjung Korea telah mengalami transisi dari yang semula panas menjadi damai.

AS dan Korsel juga telah mengevaluasi dan mendapatkan sisi positif dari perubahan perilaku yang dilakukan Korut.

"Jadi, kami setuju menghentikan latihan gabungan sepanjang dialog dengan Korut tetap berlangsung," ujar Moon.

Dengan tegas Moon menyanggah asumsi jika saja Trump berencana menarik pasukannya dari Korsel setelah denuklirisasi tercapai.

Menurutnya, keberadaan pasukan AS di Korsel merupakan bentuk kerja sama antara Seoul dengan Negeri "Paman Sam" itu.

Selain menjaga perdamaian di Semenanjung Korea, militer AS juga melindungi keamanan di kawasan timur laut Asia.

"Saya yakin AS juga tidak berniat untuk mengurangi, bahkan menarik seluruh pasukannya dari tempat kami," paparnya.

Lebih lanjut, Moon berharap Korut dan Korsel bisa segera mengumumkan akhir dari Perang Korea sebelum 2018.

Sebab, terhentinya Perang Korea yang berlangsung pada 1950-1953 dikarenakan gencatan senjata. Sehingga secara teknis kedua negara masih berkonflik.

Baca juga: Hentikan Latihan Perang dengan Korsel, AS Hemat Rp 201 Miliar



Sumber Yonhap
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X