Kompas.com - 06/07/2018, 12:18 WIB
Mejia Mejia (38), perempuan migran asal Guatemala akhirnya dapat bertemu kembali dengan putranya, Darwin (7) yang sempat dipisahkan secara paksa saat keduanya tiba di perbatasan AS. DAILY MAIL / JM GIORDANOMejia Mejia (38), perempuan migran asal Guatemala akhirnya dapat bertemu kembali dengan putranya, Darwin (7) yang sempat dipisahkan secara paksa saat keduanya tiba di perbatasan AS.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Otoritas di Amerika Serikat akan melakukan tes DNA terhadap 3.000 migran anak sebagai upaya untuk menyatukan mereka dengan orangtua atau kerabatanya.

Dilansir dari BBC, Kamis (5/7/2018), Menteri Kesehatan AS Alex Azar mengatakan, tes DNA diperlukan untuk memenuhi tenggat waktu pengadilan untuk menyatukan kembali keluarga.

Tes DNA dipakai karena metode yang biasa dilakukan lembaga itu terlalu lambat.

Baca juga: Ini Alasan Pentagon Diminta Tampung Migran Anak di Pangkalan Militer

Pengadilan memberikan waktu agar migran anak berusia empat tahun dapat berkumpul dengan keluarganya sebelum 10 Juli 2018, sedangkan anak berusia lima tahun antara 17 hingga 26 Juli 2018.

Data dari kementerian kesehatan menunjukkan, 100 dari migran anak masih berusia di bawah lima tahun.

"Kementerian mengetahui identitas dan lokasi setiap anak kecil dalam perawatan kami," katanya.

Sekitar 11.800 anak di bawah umur saat ini berada di tahanan AS, setelah menyeberang dari Meksiko secara ilegal. Sebanyak 80 persen dari mereka adalah remaja, kebanyakan laki-laki yang memasuki wilayah AS sendirian.

Azar mengatakan, penyatuan keluarga akan tetap dilaksanakan di tahanan Kementerian Keamanan Dalam Negeri karena kasus mereka diputuskan di sana.

Asisten Menteri Kesehatan AS Jonathan White menilai, hasil tes DNA hanya digunakan untuk secara akurat menghubungkan orang tua dengan anak-anak.

Baca juga: Kembali Jenguk Migran Anak, Melania Trump Tak Pakai Jaket Kontroversial

Sementara itu, aktivis khawatir data DNA dapat digunakan oleh pemerintah untuk keperluan lain dan anak-anak masih terlalu dini menyetujui tes DNA.

"Sangat disayangkan mereka menggunakan kedok menyatukan anak-anak untuk mengumpulkan data yang lebih sensitif," kata Jennifer Falcon dari RAICES, sebuah kelompok berbasis di Texas yang mewakili keluarga migran.

"Ini akan memungkinkan pemerintah untuk melakukan pengawasan terhadap anak-anak ini selama sisa hidup mereka," ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X