"Open Policy" Angela Merkel, Dua Sisi Kedatangan Imigran ke Jerman - Kompas.com

"Open Policy" Angela Merkel, Dua Sisi Kedatangan Imigran ke Jerman

Kompas.com - 05/07/2018, 21:17 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel menyampaikan pidato tentang kebijakan keuangan di Bundestag, Berlin, Jerman, 16 Mei 2018.AFP PHOTO/TOBIAS SCHWARZ Kanselir Jerman Angela Merkel menyampaikan pidato tentang kebijakan keuangan di Bundestag, Berlin, Jerman, 16 Mei 2018.

TIDAK bisa dimungkiri bahwa Jerman diklaim sebagai negara terbaik dalam menerima arus kedatangan imigran ke Eropa.

Terminologi imigran kerap kali digunakan dan dapat merujuk pada pendatang dari luar Eropa secara legal maupun pengungsi dan pencari suaka.

Meskipun terdapat perbedaan definisi, pengertian tersebut kerap kali disandingkan dalam satu bahasan tentang melihat bagaimana datangnya orang-orang dari berbagai negara ke Uni Eropa.

Sebagian dari mereka datang secara legal untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan kompetensi yang dapat "dijual".

Di sisi lain, sebagian besar dari mereka justru datang karena tidak punya pilihan karena umumnya merupakan warga sipil yang menjadi korban dari konflik di negara asal mereka.

Kedatangan mereka ke Jerman pun tidak bisa dikatakan selalu mulus-mulus saja. Ancaman atas keselamatan diri hingga penolakan menjadi salah satu tantangan bagi para imigran.

Meski demikian, Jerman memiliki daya tarik luar biasa bagi para pendatang jika dibandingkan dengan negara lain di Eropa.

Tingginya upah minimum hingga biaya hidup yang relatif lebih terjangkau menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik.

Sebagai salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbaik di Eropa, Jerman menjadi tempat yang selalu diincar oleh para imigran.

Perdebatan open policy Merkel

Open policy Merkel pun selalu menuai perdebatan dari kaum yang pro maupun kontra. Salah satu kritik yang sangat keras terhadap kedatangan imigran muncul dari kaum ultranasionalis.

Hal ini dapat dilihat dari kehadiran partai Alternative fuer Deutschland (AfD) sebagai partai sayap kanan atau ultranasionalis yang sedang "bangkit" mendapatkan kenaikan suara di Jerman.

AfD berhasil menarik simpati rakyat Jerman dengan memosisikan bahwa kedatangan pendatang ke Uni Eropa sebagai ancaman (threat) bagi isu keamanan.

Posisi AfD pun didukung oleh adanya berbagai serangan di Jerman, mulai dari serangan pada sebuah kereta di Muenchen pada 2016, serangan di sebuah pasar natal di Berlin di akhir 2016, dan yang terakhir serangan di sebuah stasiun di Kota Dusseldorf.

Rangkaian peristiwa ini setidaknya telah mampu membangun opini bahwa kedatangan para imigran membuat Jerman tidak aman sehingga mendesak Merkel memberhentikan kebijakan open policy-nya.

Namun demikian, posisi Merkel terhadap kebijakan open policy pun tetap tegas. Ia ingin melanjutkan walaupun banyak kecaman dan kritik datang kepadanya.

Merkel melihat bahwa kedatangan pengungsi ke Eropa merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dielakkan oleh Uni Eropa.

Ia berpendapat bahwa penolakan yang dilakukan oleh Jerman terhadap isu kemanusiaan hanya akan memberikan dampak yang jauh lebih buruk, bukan justru memberikan keamanan.

Alasannya, ketika tidak ada yang mengambil peran dalam isu kedatangan imigran, maka yang terjadi justru kekacauan.

Motif kemanusiaan?

Fakta bahwa Jerman merupakan negara yang paling banyak menerima pengungsi tidak dapat dielakkan. Kucuran dana yang diberikan oleh pemerintah Jerman pun sangat besar.

Akan tetapi, menjadi suatu hal yang menarik untuk menelaah lebih lanjut alasan dan motif mengapa Jerman menerima imigran secara terbuka.

Terlepas dari pemberitaan negatif akan kerugian yang didapat oleh pemerintah setempat, sejatinya Jerman juga mendapatkan keuntungan dari adanya kedatangan imigran.

Setidaknya ada beberapa penjelasan yang bisa dikemukakan mengapa Jerman membutuhkan imigran. Pertama, sebagai negara industri besar, Jerman membutuhkan tenaga kerja murah.

Bahasan ekonomi, khususnya dalam bidang ketenagakerjaan, tidak bisa dipisahkan untuk melihat isu ini. Jerman membutuhkan buruh dengan upah murah layaknya negara maju lainnya.

Membayar upah imigran atau pendatang jelas memberikan keuntungan yang besar bagi para pengusaha dan pemodal jika dibandingkan membayar buruh yang merupakan warga negara mereka.

Sebagai contoh, tempat produksi terbesar BMW bukan berada di Jerman, melainkan di South Carolina, Amerika Serikat. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah karena upah minimum di sana jauh lebih murah daripada di Jerman.

Alih-alih harus mendatangkan tenaga kerja dengan upah murah, kedatangan imigran jelas telah menjawab kebutuhan Jerman terhadap isu tersebut.

Dalam artikel berjudul "The Mistress and The Maid", Jerman juga membutuhkan pendatang untuk bekerja di ranah domestik. Pekerjaan seperti membersihkan gedung perkantoran atau rumah, mencuci, dan menjaga bayi didominasi oleh para pendatang yang umumnya tidak bisa berbahasa Jerman, tidak memiliki kompetensi, dan mau dibayar dengan upah murah.

Sebagian mereka juga tidak memiliki dokumen yang resmi sehingga semakin membuat "keleluasaan" bagi pengusaha untuk mempekerjakan sesuka mereka.

Kedua, piramida penduduk Jerman didominasi oleh orang tua. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan Jerman, kurang lebih 30 persen penduduk berada pada usia 45-65 tahun. Hal ini diperkeruh dengan adanya penurunan angka kelahiran yang terus-menerus menurun.

Dengan semakin berkurangnya anak muda berusia produktif, Jerman jelas membutuhkan para pendatang untuk menopang keberlanjutan negaranya, terutama dalam bidang industri.

Di sisi lain, pemerintah Jerman menanggung untuk membayar semua kebutuhan para orang tua yang salah satunya dialokasikan dari pajak orang yang bekerja.

Para pendatang yang bekerja secara tidak langsung dibutuhkan untuk berkontribusi membiayai kebutuhan para orang tua.

Ketiga, membangun citra baik Uni Eropa. Sebagai salah satu raksasa Uni Eropa, Jerman ingin menunjukkan bahwa bahwa Uni Eropa masih peduli dengan imigran, terutama para pengungsi dan pencari suaka yang nasibnya terkatung-katung.

Paradigma ini cukup sukses dibangun oleh Jerman di dunia internasional, di tengah negara lainnya di Uni Eropa. Perancis dan Polandia, misalnya, dapat dikatakan tidak begitu terbuka dalam menerima dan membantu keberlangsungan hidup para imigran.

Di sisi lain, membantu para imigran dapat dikatakan sebagai salah satu bukti bagaimana menunjukkan Uni Eropa memiliki komitmen dalam membantu isu kemanusiaan di kancah internasional.

Berdasarkan tiga alasan tersebut, penulis ingin mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari isu imigran yang menjadi salah satu bahasan terhangat di Uni Eropa dan dalam hal ini spesifik di negara Jerman sebagai negara terbanyak yang menerima imigran.

Alih-alih berkutat melihat permasalahan dan kerugian dari kedatangan imigran, kita tidak bisa menutup mata bahwa negara sekelas Jerman pun tetap diuntungkan.

Tidak menutup kemungkinan bahwa Jerman justru akan mencapai tahap membutuhkan terutama ketika piramida penduduk semakin didominasi oleh orang tua dan Jerman membutuhkan anak muda untuk menjadi pekerja mereka, khususnya dalam memenuhi pekerjaan di ranah domestik dan upah murah.

Muthmainnah
Mahasiswa S2 jurusan Labor Polcies and Globalization di University of Kassel dan Berlin School of Economics and Law
Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia

PPI Jerman (ppidunia.org)


Komentar
Close Ads X