Kompas.com - 04/07/2018, 10:54 WIB

JALUR GAZA, KOMPAS.com - Ribuan perempuan Palestina bergerak mendekati pagar perbatasan yang memisahkan Jalur Gaza dengan Israel, Selasa (3/7/2018).

Ini menjadi mobilisasi massa pertama kaum perempuan Palestina ke garis perbatasan Gaza sejak dimulainya gerakan protes pada akhir Maret lalu.

Para wanita Palestina itu tiba di dekat perbatasan dengan menaiki bus. Banyak di antaranya bahkan dengan ditemani anak-anak mereka.

"Saya datang ke sini untuk menyelesaikan aksi yang dimulai putri saya," kata Rim Abu Irmana.

Anak perempuan Irmana, Wasal, yang masih berusia 15 tahun, menjadi salah satu korban tewas dalam bentrokan dengan tentara Israel di perbatasan Gaza yang menewaskan puluhan warga Palestina pada 14 Mei lalu.

Baca juga: Tak Hiraukan Ancaman Penembak Jitu, Warga Palestina Menari di Perbatasan Gaza

"Ini adalah demonstrasi damai. Kami hanya ingin mempertahankan tanah dan hak-hak kami," tambah wanita berusia 43 tahun itu, yang kali ini membawa serta putranya yang juga masih anak-anak.

Setibanya di perbatasan, mereka berbaris dan mulai bergerak dalam kelompok mendekati pagar perbatasan hingga jarak kurang dari 50 meter dari wilayah Israel. Demikian dilaporkan AFP.

Juru bicara kementerian kesehatan Gaza, Ashraf al-Qodra menyebut sekitar 17 orang dilaporkan terluka dalam aksi, akibat terkena peluru yang ditembakkan tentara Israel.

Aksi demonstrasi warga Palestina di Jalur Gaza dimulai pada 30 Maret lalu dalam rangka memprotes blokade Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun di wilayah itu.

Mereka menuntut hak untuk dapat kembali ke tanah yang mereka tinggalkan setelah terusir saat peperangan pendirian Israel pada 1948.

Setidaknya sudah ada 138 warga Palestina yang dilaporkan tewas selama berlangsungnya aksi protes dengan beberapa kali terjadi bentrokan antara peserta aksi dengan tentara Israel di sepanjang garis perbatasan.

Bentrokan paling buruk terjadi pada 14 Mei, bertepatan dengan peresmian kantor kedutaan AS untuk Israel di Yerusalem. Sebanyak 62 warga Palestina tewas dalam salah satu hari terparah di sepanjang konflik kedua negara.

Baca juga: Israel Mungkin Tak Punya Pilihan Selain Operasi Militer Skala Besar ke Gaza

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kota mereka, namun Palestina mengklaim wilayah timur kota suci itu sebagai ibu kota masa depan negara mereka, menyebabkan perseteruan panjang antara kedua negara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.