Kompas.com - 28/06/2018, 15:20 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun. AFP PHOTO/SAUL LOEBPemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun.
|

PYONGYANG, KOMPAS.com - Dua pekan setelah pertemuan bersejaran Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Singapura, ternyata fasilitas riset nuklir negeri itu masih terus beroperasi.

Sejumlah citra satelit menunjukkan, pembangunan berlanjut dalam fase yang amat cepat di Pusat Riset Sains Nuklir Yongbyon, Korea Utara.

Pembangunan itu termasuk modifikasi sistem pendinginan reaktor produksi plutonium. Selain itu sejumlah fasilitas pendukung juga dibangun di sekitar tempat tersebut.

Baca juga: Fasilitas Nuklir Korea Utara Dibuka Lagi untuk Memproduksi Plutonium

Sebuah gedung kantor, kemungkinan besar adalah tempat menampung para teknisi, juga telah selesai dibangun.

Sementara itu, pembangunan besar-besaran terus berlangsung di lokasi tersebut. Demikian menurutn 38North, sebuah program Institut AS-Korea di Universitas John Hopkins.

"Pekerjaan yang terus berlangsung di fasilitas nuklir Yongbyon seharusnya tak dilihat terkait dengan janji Korea Utara untuk melakukan denuklirisasi," demikian isi laporan itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Para teknisi Korea Utara nampaknya hanya melakukan pekerjaan rutin mereka hingga mendapatkan perintah baru dari Pyongyang."

Sejauh ini tidak ada tenggat waktu terkait proses denuklirasai yang dijanjikan Kim Jong Un dalam pertemuan di Singapura pada 12 Juni lalu itu.

Hal inilah, yang menurut pemimpin redaksi 38North, Jenny Town menjadi kelemahan hasil pertemuan di Singapura.

"Pembangunan infrastruktur terus berlangsung di Yongbyon, menegaskan mengapa sebuah kesepakatan aktual diperlukan, bukan sekadar pernyataan dengan sederat janji muluk," ujaer Town lewat akun Twitter-nya.

Sejumlah analis juga meragukan niat Kim Jong Un menyingkirkan persenjataan nuklirnya.Apalagi kalimat dalam pejanjian Singapura itu amat samar serta tak mencantumkan kata "bisa diverifikasi" dan "tidak bisa ditangguhkan".

Baca juga: Mengenal Punggye-ri, Situs Uji Coba Nuklir Korea Utara yang Misterius

Pekan ini, para pejabat Korea mendiskusikan prospek pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan kedua negara.

Saat itu ketua delegasi Korea Selatan Kim Jeong-ryeol mengatakan, sanksi terhadap Pyongyang terkait program nuklir harus diselesaikan sebelum jalur kereta api dibangun.




Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X