Kompas.com - 27/06/2018, 16:32 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Beijing mengecam pernyataan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen yang menyebut China sebagai ancaman demokrasi global dan menyerukan pembatasan terhadap negaranya.

Juru bicara Kantor Urusan Taiwan mengatakan, pada Rabu (27/6/2018), komentar oleh Tsai menyesatkan dan tidak berdasar.

"Pernyataan Tsai bertujuan menciptakan perseteruan dengan rekan di seberang selat," kata Ma Xiao Guang, juru bicara kantor urusan Taiwan di Beijing, mengacu pada China daratan yang dipisahkan Selat Taiwan.

"Dia (Presiden Tsai) berencana mengekang pembaharuan besar oleh bangsa China. Dia terlalu melebih-lebihkan pengaruh diri sendiri," lanjut Guang.

Presiden Tsai mengeluarkan pernyataan itu dalam sebuah wawancara eksklusif dengan AFP, pada Senin (25/6/2018).

Baca juga: Presiden Taiwan Ajak Negara-negara Bangkit Melawan China

Dalam transkrip hasil wawancara yang telah dipublikasikan oleh kantor berita Xinhua, Tsai mengajak kepada masyarakat internasional untuk berani bersikap dan membatasi China dengan membela kebebasan, menyebut negara tetangganya itu sebagai ancaman global bagi demokrasi.

Tsai menyerukan kepada negara-negara untuk bersama Taiwan membela diri terhadap tujuan ekspansionis China dan menjaga nilai-nilai liberal bersama.

"Ini bukan hanya tantangan bagi Taiwan melainkan juga tantangan bagi kawasan dan dunia secara keseluruhan."

"Yang saat ini menjadi tantangan bagi Taiwan, mungkin besok negara lain yang harus menghadapi perluasan pengaruh China," kata Tsai kepada AFP, Senin (25/6/2018).

Komentar tersebut disampaikan Tsai menyusul serangkaian tekanan yang diterapkan Beijing kepada Taiwan, yang masih dianggap sebagai bagian dari China.

China terus menunjukkan dominasinya atas Taiwan, mulai dari menggelar serangkaian latihan militer di sekitar pulau, hingga mendesak perusahaan-perusahaan internasional untuk memasukkan Taiwan sebagai bagian dari China dan bukan negara sendiri.

Sejumlah negara yang sempat memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, satu persatu meninggalkannya dan beralih ke China. Terbaru adalah Republik Dominika dan Burkina Faso.

Baca juga: Pakai Istilah China Taiwan, Dua Maskapai Jepang Dikecam

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.