Kompas.com - 26/06/2018, 15:30 WIB

Saat itu, Komandan skuadron kendaraan tempur Stryker, Letkol Adam Lackey, berkisah dia mendapat perintah harus menempatkan Stryker di Georgia.

Perjalanan tersebut diperkirakan seharusnya bisa sampai dalam dua pekan. Namun, Lackey berujar Stryker baru sampai empat bulan kemudian karena berbagai miskalkulasi.

Antara lain regulasi berbeda di Hongaria dan Romania soal standar penguncian kendaraan tempur, serta protokol Jerman yang rumit tentang cara mengangkut ranpur ke kereta.

Mereka juga mendapat masalah di Swedia, negara non-NATO namun sering berpartisipasi dalam latihan militer yang diadakan.

Baca juga: Produsen Pesawat Rusia Hentikan Kerja Sama dengan NATO

Di sana, militer AS harus menunggu selama tiga pekan sebelum mendapat pemberitahuan berisi izin melintasi negara Skandinavia tersebut.

"Jika Anda tidak bisa sampai di lokasi konflik kurang dari 45 hari, Anda bisa dikatakan kalah perang," beber Mayjen Steven Shapiro, kepala komando penyokong mobilisasi AS di Eropa.

Sebuah lembaga think tank melaporkan pasukan Rusia negara-negara yang dijaga oleh anggota NATO sering kecolongan dengan menyusupnya pasukan Rusia.

Rand Corp melaporkan di 2016, pasukan Rusia dilaporkan berhasil memasuki Riga (Latvia) maupun Talinn (Estonia) saat melakukan latihan perang.

Rand bukan lembaga pertama yang membeberkan kelemahan NATO. Harian Jerman, Der Spiegel membocorkan dokumen NATO pada Juli 2017.

Dalam dokumen itu disebutkan kemampuan NATO telah menurun sejak era Perang Dingin. "Berbagai struktur komando yang ada belum pernah diujicobakan," ulas laporan tersebut.

Jenderal Denis Mercier, Komandan Tertinggi NATO menulis dalam laporan kepada Dewan Atlantik Oktober tahun lalu, kemampuan militer berpindah dari Barat ke Asia.

Sebab, selain Rusia, China juga mulai melaksanakan modernisasi terhadap alat utama sistem persenjataannya.

Baca juga: Rusia Dituding Gelar Latihan Militer untuk Menyerang NATO

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber Newsweek


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.