Kompas.com - 26/06/2018, 14:05 WIB

NEW DELHI, KOMPAS.com - Sebuah survei yang dilakukan terhadap para pakar menyebutkan India sebagai negara paling berbahaya bagi perempuan.

Jajak pendapat yang dilakukan Thomson Reuters Foundation itu melakukan penelitian terhadap 554 pakar antara 26 Maret sampai 4 Mei lalu.

India berada di peringkat pertama di atas negara konflik seperti Afghanistan maupun Suriah, menurut laporan Thomson Reuters.

Baca juga: Lima Pekerja Sosial Diculik dan Diperkosa di Pedalaman India

Kenyataan ini berbeda ketika survei serupa dilakukan pada 2011, Saat itu, India berada di peringkat keempat di bawah Afghanistan, Republik Demokratik Kongo, dan Pakistan.

"Tujuan kami adalah untuk melihat apakah situasi telah mengalami perubahan selama tujuh tahun terakhir," demikian penjelasan Thomson Reuters.

Dalam surveinya, Thomson Reuters menganalisis enam isu; akses pelayanan kesehatan, diskriminasi gender, pelecehan seksual/non-seksual, tradisi seksis, maupun perdagangan manusia.

Hasil survei tersebut menimbulkan keprihatinan dari Manjunath Gangadhara, pejabat pemerintahan dari Negara Bagian Karnataka.

Dilansir Hindustan Times Selasa (26/6/2018), Gangadhara berkata India telah menunjukkan sikap tak menghormati perempuan melalui kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Dia menyebut data pemerintah yang menunjukkan ada peningkatan hingga 83 persen antara 2007 sampai 2016, di mana setiap jam dilaporkan terdapat empat kasus pemerkosaan.

Para pakar yang menjadi responden menyatakan, India berbahaya dalam sektor perdagangan manusia, perbudakan seks, hingga pembunuhan anak.

"Negara dengan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat dunia, dan maju di bidang teknologi harus malu karena kejahatan terhadap perempuan," keluh Gangadhara.

Kementerian Pembangunan untuk Perempuan dan Anak-anak India menolak berkomentar atas hasil yang dikeluarkan Thomson Reuters tersebut.

Baca juga: Kasus Ketiga Bulan Ini di India, Gadis Remaja Diperkosa dan Dibakar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.