Erdogan: Kami Beli S-400 Bukan Hanya untuk Disimpan di Gudang - Kompas.com

Erdogan: Kami Beli S-400 Bukan Hanya untuk Disimpan di Gudang

Kompas.com - 13/06/2018, 17:43 WIB
Sistem pertahanan anti-serangan udara S-400 buatan Rusia. ALEXANDER NEMENOV / AFP Sistem pertahanan anti-serangan udara S-400 buatan Rusia.

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan keras bahwa mereka membeli sistem rudal Rusia, S-400, untuk digunakan.

Pernyataan keras Erdogan itu muncul beberapa bulan usai perdebatan antara Turki dengan sekutu NATO, khususnya AS.

Washington mengkritik pembelian sistem rudal buatan Rusia itu, yang disebut menjadi ancaman terhadap pertahanan negara-negara NATO.

"Kami membeli S-400 tidak hanya untuk disimpan di gudang. Kami akan menggunakannya apabila dibutuhkan. Ini adalah sistem pertahanan," kata Erdogan, Selasa (12/6/2018).

"Apa yang akan kami lakukan terhadapnya jika tidak menggunakan sistem pertahanan ini?" lanjutnya dilansir Daily Express.

Baca juga: S-400, Sistem Rudal Rusia yang Bikin Gaduh Dunia

Erdogan menambahkan, tujuan lain Turki membeli sistem pertahanan dari Rusia itu adalah agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan persenjataan dari AS.

"Apakah kami masih akan bergantung pada AS? Saat kami meminta kepada mereka selama bertahun-tahun, jawaban yang mereka berikan kepada kami adalah bahwa kongres tidak mengizinkan," ujar dia.

Dan saat AS belum dapat memenuhi permintaan Turki, Rusia memberikan tawaran S-400 yang dianggap cukup memikat.

"Terkait pinjaman, mereka juga menawarkan persyaratan pinjaman yang cukup menarik," tambah Erdogan.

Kongres AS telah mengangkat kasus S-400 ini dan pihak senat segera melakukan pemungutan suara untuk rancangan undang-undang yang menyerukan pemberian sanksi untuk setiap pembelian sistem rudal udara Rusia itu.

Rancangan UU tersebut juga akan mengklaim penjualan serta mengiriman jet tempur canggih F-35 yang awalnya diperkirakan tiba di Turki pada 21 Juni.

AS mengancam akan menangguhkan pengiriman jet tempur itu hingga diputuskan menghapus Turki dari program kerja sama produksi F-35.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy mengklaim bahwa rancangan undang-undang tersebut bertentangan dengan semangat aliansi dengan AS.

Baca juga: AS Minta India Tidak Beli Sistem Pertahanan Rudal S-400 dari Rusia

"Ankara tidak akan tinggal diam jika Washington menghentikan pengiriman jet tempur," kata Aksoy.

"Itu bukan semata-mata program milik AS, melainkan program multinasional dan kami harap semua pihak dapat memenuhi kewajiban mereka," tambahnya.

Ditambahkan Erdogan, AS berkewajiban untuk tetap mengirimkan jet tempur tersebut karena Turki sudah membayar 800 juta dolar AS (lebih dari Rp 11 triliun) untuk pesawat tersebut.


Terkini Lainnya

Close Ads X