Dianggap Merangkul Korut, Perancis Pertanyakan Kebijakan Trump - Kompas.com

Dianggap Merangkul Korut, Perancis Pertanyakan Kebijakan Trump

Kompas.com - 13/06/2018, 16:35 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun.AFP PHOTO/THE STRAIT TIMES/KEVIN LIM Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump pada pertemuan bersejarah antara AS-Korea Utara, di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018). Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya bagi pemimpin kedua negara dan menjadi momentum negosiasi untuk mengakhiri kebuntuan permasalahan nuklir yang telah terjadi puluhan tahun.

PARIS, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves le Drian, Rabu (13/6/2018), mengkritik Presiden AS Donald Trump yang melakukan destabilitasi politik luar negeri setelah secara praktis "merangkul" Korea Utara hanya dalam hitungan hari.

Le Drian mengakui, pertemuan bersejarah Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un merupakan sebuah langkah maju.

Namun, Le Drian menegaskan, dirinya amat khawatir dengan manuver diplomatik Presiden Trump.

"Hanya dalam waktu beberapa hari, kita melitah Presiden Trump menyerang PM Trudeau yang merupakan sekutu tradisional AS," ujar Le Drian.

Baca juga: Pakar Nilai Kim Jong Un dan Donald Trump Memiliki Kepribadian Serupa

"Kita juga melihat hubungan Presiden Trump dengan para sekutunya retak di KTT G7 di Quebec dan di hari berikutnya dia merangkul seorang diktator komunis yang beberapa hari sebelumnya amat dia musuhi," tambah Le Drian.

Le Drian menambahkan, manuver politik Trump itu membuat situasi politik dunia tidak stabil.

"Presiden Trump memutuskan secara progresif melucuti kerjasama multilateral yang dibangun setelah perang dunia," ujar Le Drian.

"Saat ini merupakan masa penuh ketidakpastian dan risiko. Amerika menutup dirinya di dalam sebuah benteng kekuasaan," lanjut dia.

Seperti banyak pihak lainnya, Le Drian juga mempertanyakan tentang bagaimana cara memastikan Kim Jong Un menepati janjinya untuk menyingkirkan senjata nuklir dari Semenanjung Korea.

"Di masa lalu sudah dibuat janji denuklirisasi di masa ayah Kim Jong Un yang akhirnya tak terwujud," papar Le Drian.

"Jadi kita harus memastikan prinsip-prinsip denuklirisasi yang disampaikan itu bisa diverifikasi dan tak bisa dibatalkan," Le Drian menegaskan.

Baca juga: Bujuk Kim Jong Un Lakukan Denuklirisasi, Trump Tunjukkan Video

Para pengkritik Trump juga mengomentari soal sambutan hangatnya untuk Kim Jong Un, hanya beberapa hari setelah terlibat masalah dengan para sekutunya di KTT G7.

Dalam KTT itu, Trump berselisih hebat dengan para pemimpin G& terkait masalah tarif dan menuding PM Kanada Justin Trudeay sebagai sosok "tak jujur dan lemah".


Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X