Israel Hancurkan Terowongan Hamas yang Mengarah ke Laut

Kompas.com - 11/06/2018, 17:17 WIB
Bocah Palestina berjalan melalui terowongan yang digunakan militer selama latihan dalam eksebisi militer Hamas di Gaza pada Juli 2016. AFP / MOHAMMED ABEDBocah Palestina berjalan melalui terowongan yang digunakan militer selama latihan dalam eksebisi militer Hamas di Gaza pada Juli 2016.

GAZA, KOMPAS.com - Serangan udara kembali dilancarkan militer Israel ke kawasan Jalur Gaza, menargetkan terowongan milik Hamas yang mengarah ke laut.

Terowongan-terowongan tersebut diyakini memberi akses anggota Hamas untuk menuju kawasan perairan tanpa terdeteksi.

Melansir dari The New Arab, terowongan ke arah laut yang baru pertama kali ditemukan berkat informasi intelijen Israel tersebut dihancurkan pada 3 Juni lalu.

Dalam serangan yang dilancarkan di utara Jalur Gaza tersebut menargetkan belasan fasilitas milik Hamas.


Dikatakan juru bicara militer Israel, Jonathan Cornicus, diyakini masih ada terowongan menuju laut lain yang belum berhasil ditemukan.

Baca juga: Penjara Israel akan Larang Narapidana Hamas Tonton Piala Dunia

"Kami terus memantau menggunakan seluruh operasional, kemampuan teknis dan intelijen yang kami miliki," tambahnya, Minggu (10/6/2018).

Cornicus menambahkan, terowongan yang dihancurkan menghubungkan fasilitas militer Hamas menuju perairan Laut Mediterania hingga puluhan meter di kedalaman tanah di bawah laut.

"Terowongan tersebut dapat menfasilitasi kegiatan permusuhan melawan negara Israel dengan pintu keluar terowongan yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari perbatasan," tambahnya.

Hamas diyakini juga telah menggunakan terowongan dalam pelatihan dan kegiatan operasional.

Israel telah menempatkan misi menghancurkan terowongan Hamas sebagai prioritas tertinggi, menyusul penyusupan yang dilakukan Hamas ke Israel selama perang 2014.

Hingga bentrokan yang terjadi di dekat perbatasan Gaza dengan Israel pekan lalu, telah ada lebih dari 120 warga Palestina yang menjadi korban tewas.

Baca juga: Israel Hancurkan Terowongan Terpanjang Buatan Hamas

Rangkaian demonstrasi yang dijuluki "Great Return March" dimulai pada 30 Maret lalu, menuntut pengembalian para pengungsi Palestina ke kampung halaman mereka sejak terusir pada 1948.

Demonstrasi mencapai puncak kekerasan setelah terjadi bentrok pada 14 Mei lalu yang menewaskan setidaknya 61 warga Palestina dari ribuan peserta aksi yang menolak peresmian kedutaan AS di Yerusalem.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X