Cerita Para WNI Berpuasa di Eropa... - Kompas.com

Cerita Para WNI Berpuasa di Eropa...

Kompas.com - 07/06/2018, 15:15 WIB
Umi Hani, mahasiswa asal Indonesia yang tengah menjalani pendidikan S2 di jurusan Molecular Biotechnology, Jagiellonian University, Polandia.Dok. Pribadi Umi Hani, mahasiswa asal Indonesia yang tengah menjalani pendidikan S2 di jurusan Molecular Biotechnology, Jagiellonian University, Polandia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjalani ibadah puasa di negeri orang, pasti memberikan nuansa dan pengalaman yang berbeda.

Di Indonesia, umat muslim berpuasa selama sekitar 13-14 jam, dimulai sekitar pukul 04.00 dan berakhir sekitar pukul 18.00.

Lalu, bagaimana dengan puasa di negara lain, seperti di negara-negara Eropa yang durasi siangnya relatif lebih panjang?

Berikut ini dua kisah dari para WNI saat berpuasa di Eropa...

Polandia

Umi Hani, merupakan seorang mahasiswa asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan S2 di Jurusan Molecular Biotechnology, Jagiellonian University, Polandia.

Tahun ini adalah tahun keduanya berpuasa di Polandia, tepatnya di Kota Lodz dan Kraków.

Seperti 2017, puasa pada 2018 ini juga jatuh pada musim semi menjelang musim panas.

“Musim spring menjelang summer gini, panasnya bukan main mataharinya. Ini 20 hari full panas banget, suhunya bisa sampai 30 derajat, tapi rasanya udah panas banget di sini,” ujar Hani, saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (7/6/2018).

Ibadah puasa di sana berlangsung selama 18-19 jam.

Hal itu tentu berdampak pada rutinitas ibadah lainnya, seperti dekatnya jarak antara shalat tarawih dan makan sahur.

“Jadi masuk Isya itu jam setengah 11 (malam) lewat, terus shalat tarawih. Setelah itu mau tidur nanggung, jadi ya disambi buat belajar, sampai jam 1 lalu prepare buat sahur,” ujar Hani.

Menjalani puasa jauh dari Tanah Air memberikan kesan tersendiri bagi Hani.

Banyak hal yang ia rindukan. Misalnya ibadah bersama keluarga, makanan takjil, dan merindukan suara adzan.

“Di sini sahur, sahur sendiri. Takjil enggak ada, kalau pengin ya buat sendiri. Adzan apalagi, cuma lihat jadwal buka puasa via HP,” kata Hani.

Meski demikian, pengalaman dua tahun ini, membuatnya merasa bersyukur dilahirkan di Indonesia karena memiliki waktu puasa yang stabil dan tidak terpengaruh musim.

Ngalamin puasa 19 jam, jadi bikin makin menghargai waktu dan semangat dalam menjalaninya,” kata Hani.

Menjadi minoritas dan menjalankan ibadah puasa di negeri orang, menurut Hani, banyak yang tidak tahu tentang ibadah yang tengah dijalankan umat muslim di bulan Ramadhan ini.

“Toleransi lebih ke cuek sih ya, maksudnya enggak banyak yang tahu kita lagi puasa. Kecuali teman- teman dekat saja. Jadi ya mereka biasa aja makan minum di depan kita,” kata dia.

Inggris

Cerita juga datang dari Anggita Mega Mentari, mahasiswa asal Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan S2 di Lancaster University, Inggris.

Pada 2017, Ramadhan di Inggris jatuh pada musim panas sehingga waktu berpuasa lebih lama.

“Di waktu summer, matahari terbit sangat awal (jam 3 atau 4 pagi) dan tenggelam sangat lambat (sekitar pukul 21.30). Jadi memang hari terasa sangat panjang sewaktu musim panas, dan puasa jatuh di musim ini,” kata Mega.

Suhu rata-rata saat musim panas di Inggris berkisar 18-20 derajat celcius dari sebelumnya 5 derajat pada musim semi.

“Memang terkesan jadi cobaan tingkat tinggi karena kebetulan Inggris sedang dalam fase terik dan panas tapi justru harus berpuasa, terlebih bagi orang Indonesia yang biasanya jam 6 sore  sudah berbuka ya,” ujar Mega.

Mega menceritakan, ibadah puasa dijalaninya selama 18-19 jam, dimulai dari imsak pukul 03.00 dan berakhir pada 21.00 atau 22.00.

Setelah berbuka puasa, ia bersama teman-teman muslimnya berkegiatan di ruang ibadah yang disediakan kampus. Kegiatan itu di antaranya mengaji dan melaksanakan shalat tarawih.

“Memang dilematis ketika pulang ke apartemen saja sudah jam setengah 1 pagi. Lalu jam 3 sudah imsak. Alhasil memang mayoritas mahasiswa muslim di Lancaster pasca tarawih tidak tidur lagi sembari menunggu waktu sahur,” ujar Mega.

Dekatnya waktu berbuka puasa dan makan sahur menyebabkan kondisi perut masih kenyang.

Untuk mengatasi hal itu, Mega mengaku hanya makan makanan kecil atau susu saat sahur.

Rutinitas Ramadhan yang sedemikian rupa berpengaruh terhadap waktu tidur dan istirahat yang dimiliki.

“Setelah imsak dan sholat subuh, baru saya tidur dan bangun sekitar jam 12 siang. Pada saat itu, kurang lebih Zuhur jam 2 siang. Jadi tidur pagi hari habis imsak sangat aman karena tidak menabrak waktu shalat,” kata Mega.

Kompas TV Sepeda downhill adalah salah satu cabang olahraga ekstrem. Para pengendara sepeda ditantang menuruni bukit terjal dengan kecepatan tinggi.


 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X