AS Bakal Veto Rancangan Resolusi Perlindungan Warga Palestina di Gaza

Kompas.com - 01/06/2018, 16:16 WIB
Seorang perempuan warga Palestina memegang bendera negaranya saat terjadi bentrokan dengan pasukan Israel di dekat perbatasan antara jalur Gaza dan Israel, di sebelah timur Kota Gaza, Senin (14/5/2018). Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel telah menewaskan 55 orang dan melukai 2.700 orang dalam aksi protes dan bentrokan menentang pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. AFP PHOTO/MAHMUD HAMSSeorang perempuan warga Palestina memegang bendera negaranya saat terjadi bentrokan dengan pasukan Israel di dekat perbatasan antara jalur Gaza dan Israel, di sebelah timur Kota Gaza, Senin (14/5/2018). Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel telah menewaskan 55 orang dan melukai 2.700 orang dalam aksi protes dan bentrokan menentang pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem.

NEW YORK, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat mengatakan bakal memveto rancangan resolusi PBB yang menyerukan perlindungan untuk warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan, Amerika Serikat tidak akan ragu menggunakan hak vetonya saat dilakukan pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada Jumat (1/6/2018) siang waktu setempat.

Dilansir dari AFP, rancangan resolusi perlindungan untuk rakyat Palestina tersebut diinisiasi oleh Kuwait dan telah dipresentasikan dua pekan lalu.

Melalui rancangan resolusi tersebut, Kuwait menyerukan misi perlindungan internasional untuk warga Palestina sebagai bentuk protes menyusul kekerasan yang terjadi di perbatasan Gaza dengan Israel.

Baca juga: AS Pertimbangkan Pangkas Dana Dua Badan PBB yang Terima Palestina Jadi Anggota

Dalam rancangan akhir yang diajukan, Kuwait mendesak diambilnya pertimbangan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan perlindungan bagi warga sipil Palestina dan meminta mekanisme perlindungan internasional yang memungkinkan.

Setidaknya sudah ada 122 warga Palestina yang dilaporkan menjadi korban tewas dalam bentrokan yang terjadi di perbatasan Gaza dengan Israel sejak akhir Maret.

Haley mendeskripsikan naskah rancangan yang dikemukakan Kuwait, yang mengatasnamakan negara-negara Arab sebagai pendekatan yang terlalu berat sebelah.

"Pendekatan yang dilakukan Kuwait terlalu berat sebelah, secara moral cacat dan hanya akan melemahkan upaya berkelanjutan menuju perdamaian antara Israel dan Palestina," kata Haley.

"AS tidak diragukan lagi akan menveto rancangan resolusi Kuwait," tambahnya.

Ini menjadi kali kedua AS menveto resolusi PBB mengenai konflik Israel-Palestina.

Sebelumnya pada Desember 2017 lalu, AS menveto resolusi yang menolak keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Baca juga: Amerika Veto Rancangan Resolusi DK PBB soal Yerusalem

Sementara tegas bakal menveto rancangan resolusi Kuwait, AS juga mengumumkan rancangan resolusi tandingan yang menyebut Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas situasi di Gaza.

Dalam rancangan resolusinya, AS menuntut Hamas untuk menghentikan segala tindak kekerasan dan provokatif, termasuk di sepanjang garis perbatasan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Kisahkan Dijebak Masuk ke Industri Film Dewasa

Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Kisahkan Dijebak Masuk ke Industri Film Dewasa

Internasional
Menyeberang Sambil Pakai 'Headphone' dan Bermain Ponsel, Juara Tinju Ini Tewas Ditabrak Kereta

Menyeberang Sambil Pakai "Headphone" dan Bermain Ponsel, Juara Tinju Ini Tewas Ditabrak Kereta

Internasional
Berbohong Dirinya Diperkosa, Pria Indonesia Dipenjara di Singapura

Berbohong Dirinya Diperkosa, Pria Indonesia Dipenjara di Singapura

Internasional
Mantan Model Playboy Ini Berniat 'Nyalon' Jadi Presiden Kroasia

Mantan Model Playboy Ini Berniat "Nyalon" Jadi Presiden Kroasia

Internasional
Dikepung Polisi, Demonstran Hong Kong di Universitas Tulis Kata-kata Terakhir

Dikepung Polisi, Demonstran Hong Kong di Universitas Tulis Kata-kata Terakhir

Internasional
Trump Kunjungi Rumah Sakit Militer secara Rahasia, Kesehatannya Jadi Sorotan

Trump Kunjungi Rumah Sakit Militer secara Rahasia, Kesehatannya Jadi Sorotan

Internasional
Bentrokan di Universitas Hong Kong, Keluarga yang Cemas Menanti Kabar Anaknya

Bentrokan di Universitas Hong Kong, Keluarga yang Cemas Menanti Kabar Anaknya

Internasional
Pemimpin Hong Kong Minta Demonstran yang Ada di Kampus untuk Menyerah

Pemimpin Hong Kong Minta Demonstran yang Ada di Kampus untuk Menyerah

Internasional
Pemerintah Hong Kong Sebut 600 Demonstran Menyerah kepada Polisi

Pemerintah Hong Kong Sebut 600 Demonstran Menyerah kepada Polisi

Internasional
Dokumen soal Penanganan Minoritas Muslim di Xinjiang Bocor, Apa Tanggapan China?

Dokumen soal Penanganan Minoritas Muslim di Xinjiang Bocor, Apa Tanggapan China?

Internasional
Dokumen China Ungkap Penanganan terhadap Minoritas Muslim di Xinjiang

Dokumen China Ungkap Penanganan terhadap Minoritas Muslim di Xinjiang

Internasional
Kaitkan Kebakaran Hutan dengan Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis, Bintang Rugbi Australia Ini Dikecam

Kaitkan Kebakaran Hutan dengan Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis, Bintang Rugbi Australia Ini Dikecam

Internasional
AS Kini Tak Pandang Permukiman Israel di Tepi Barat Ilegal

AS Kini Tak Pandang Permukiman Israel di Tepi Barat Ilegal

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kapal Induk China Berlayar ke Selat Taiwan | Media Inggris Soroti Plastik di Indonesia

[POPULER INTERNASIONAL] Kapal Induk China Berlayar ke Selat Taiwan | Media Inggris Soroti Plastik di Indonesia

Internasional
Dikurung di Penjara Manusia, Beruang Ini 'Dibebaskan' Setelah 15 Tahun

Dikurung di Penjara Manusia, Beruang Ini "Dibebaskan" Setelah 15 Tahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X