Keluar pada 2003, Zimbabwe Ingin Kembali Jadi Anggota Persemakmuran

Kompas.com - 22/05/2018, 11:16 WIB
Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa, menghadiri Forum CEO Afrika pada 27 Maret 2018 di Abidjan. (AFP/Sia Kambou) Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa, menghadiri Forum CEO Afrika pada 27 Maret 2018 di Abidjan. (AFP/Sia Kambou)

HARARE, KOMPAS.com - Zimbabwe mengajukan diri untuk kembali bergabung pada Negara Persemakmuran, setelah negara tersebut menarik diri dari keanggotaan selama 15 tahun.

Zimbabwe keluar dari Negara Persemakmuran ketika masih dipimpin oleh Robert Mugabe.

Dilansir dari CNN, Senin (21/5/2018), Sekretaris Jenderal Negara Persemakmuran, Patricia Scotland, mengatakan Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa telah mengajukan permintaan pada 15 Mei 2018.

Baca juga: Zimbabwe Dapat Kucuran Investasi Rp 14 Triliun dari Perusahaan China


Zimbabwe ingin masuk sebagai anggota perkumpulan 53 negara yang mayoritas pernah dijajah Inggris itu.

"Zimbabwe akhirnya kembali ke Persemakmuran, menyusul pengajuan keanggotaan yang berhasil," katanya dalam sebuah pernyataan.

Untuk bisa bergabung ke Persemakmuran, Zimbabwe harus menjalani penilaian diikuti dengan konsultasi bersama negara anggota lainnya.

Sebelumnya, Zimbabwe diskors dari Persemakmuran pada 2002. Penyebabnya, Mugabe dianggap telah mencurangi pemilihan umum pada 2012 dengan menyingkirkan lawan-lawannya.

Mantan diktator itu menarik Zimbabwe dari keanggotaan Persemakmuran, setelah penangguhan negara diperbarui pada 2003.

Mugabe digulingkan pada November lalu melalui aksi pengambilalihan militer dan pemakzulan segera mengakhiri pemerintahannya yang berlangsung selama 37 tahun.

Sekretariat Persemakmuran akan mengirim peninjau untuk memantau pemilu presiden pada Juli 2018, menyusul adanya undangan dari pemerintah Zimbabwe.

Baca juga: Mnangagwa Janjikan Pemilu di Zimbabwe Digelar Juli 2018

Mnangagwa menjanjikan pemilu akan digelar secara adil, demokratis, dan transparan.

Menurut dia, pemilu era Mugabe selalu dirusak oleh penggelembungan suara dan tekanan yang diberikan kepada oposisi.

"Saya yakin, dengan pemilu ini, maka Zimbabwe bakal layak disebut negara demokratis," ucapnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung 'Teroris' di Suriah

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung "Teroris" di Suriah

Internasional
Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong 'Tak Sengaja' Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong "Tak Sengaja" Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Internasional
Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan 'Zona Aman'

Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan "Zona Aman"

Internasional
Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Internasional
Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Internasional
Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X