Kompas.com - 19/05/2018, 20:29 WIB
|

Memimpin milisi

Karier politik Al-Sadr dibantu reputasi keluarganya termasuk nama ayahnya, Ayatollah Mohammed Mohammed Sadiq al-Sadr yang tewas di masa pemerintahan Saddam Hussein.

Dengan cambang kelabu khasnya dilengkapi sorban hitam seorang "sayyid" atau keturunan Nabi Muhammad, Al-Sadr mendapatkan popularitas beberapa bulan setelah invasi AS ke Irak pada 2003.

Tentara Mahdi bentukannya, yang diperkirakan memiliki 60.000 orang anggota, merupakan milisi Syiah paling ditakuti di Irak.

Milisi ini pula yang dituding Washington menjadi pelaku pembunuhan ribuan orang pemeluk Sunni di Irak.

Baca juga: ISIS Ancam Serang Pemilu di Irak

Namun, pada Agustus 2008, Al-Sadr menghentikan kegiatan Tentara Mahdi setelah serangan besar tentara AS dan Irak ke markas besarnya di Baghdad dan wilayah selatan Irak.

Menyusul gencatan senjata, para komandan AS mengatakan, keputusan Al-Sadr menghentikan perlawanan amat berpengaruh pada menurunnya level kekerasan di Irak.

Meski tak lagi angkat senjata, Al-Sadr tetap mempertahankan kevokalannya menentang keberadaan militer AS di negeri kelahirannya itu.

Mengandalkan kekuatan jalanan

Meski beberapa kali meninggalkan dunia politik, dikabarkan meneruskan studi agama di Qom, kota suci Iran, dengan pengaruhnya Al-Sadr bisa memicu ketegangan politik.

Setelah mendukung politisi Syiah Nuri al-Maliki pada 2006 dan memastikan dia menduduki jabatan perdana menteri, Al-Sadr memerintahkan pengikutnya keluar dari kabinet setahun kemudian.

Aksi Al-Sadr ini nyaris meruntuhkan pemerintahan Al-Maliki saat itu.

Pada 2010, kelompok Al-Sadr mencoba keberuntungan dalam pemilihan legislatif dan beraliansi dengan Dewan Tertinggi Islam Irak, sebuah kelompok Syiah yang memiliki kaitan dengan Iran.

Pemilu tersebut memastikan Al-Maliki memenangkan masa jabatan kedua, yang kemudian dijuluki sebagai diktator oleh Al-Sadr yang menuntut Al-Maliki mundur dari jabatannya.

Pada 2014, Al-Sadr membentuk kembali milisinya untuk melindungi situs-situ suci Irak dari serbuan ISIS yang kala itu menguasai wilayah luas di utara dan barat Baghdad.

Baca juga: Jurnalis Pelempar Sepatu ke Bush Maju dalam Pemilihan Irak

Baik di dunia militer, keagamaan, atau politik, Al-Sadr dengan amat hati-hati mempertahankan basis kekuatannya yang terbukti kini membuatnya menjadi sosok tanpa lawan dalam dunia politik.

"Karena dia mengandalkan kekuatan jalanan, dia mengecewakan banyak partai," kata pakar politik Irak, Essam al-Filli.

Bagi para analis, membentuk pemerintahan koalisi dengan Al-Sadr akan membawa situasi politik Irak memasuki fase instabilitas.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.