Organisasi Pengawas Senjata Kimia Sebut Klorin Telah Digunakan di Suriah

Kompas.com - 17/05/2018, 09:23 WIB
Markas Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag, Belanda. Tim pencari fakta OPCW yang dikirim ke kota Duoma, Suriah, telah menyelesaikan misi dan kembali ke Belanda. AFP / JOHN THYSMarkas Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag, Belanda. Tim pencari fakta OPCW yang dikirim ke kota Duoma, Suriah, telah menyelesaikan misi dan kembali ke Belanda.

DEN HAAG, KOMPAS.com - Organisasi Pelarangan Senjata Kimia ( OPCW) akhirnya mengumumkan hasil yang telah didapat oleh tim pencari fakta yang dikirim untuk menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah.

OPCW pada Rabu (16/5/2018) telah mengonfirmasi adanya penggunaan gas klorin sebagai senjata kimia dalam serangan yang dilancarkan ke kota Saraqeb di Suriah pada Februari lalu.

Hasil tim pencari fakta OPCW menetapkan bahwa klorin telah dilepaskan dari tabung-tabung melalui tumbukan mekanis di lingkungan Al Talil di Saraqeb pada 4 Februari. Demikian bunyi pernyataan OPCW.

Kesimpulan tim diambil berdasarkan pada temuan dua buah tabung yang telah ditentukan sebelumnya berisi klorin.


Baca juga: Pentagon: Suriah Masih Miliki Sisa Senjata Kimia

"Sampel lingkungan juga menunjukkan adanya kandungan klorin yang tidak biasa di wilayah lokal," lanjut pernyataan OPCW.

Namun, sesuai dengan mandatnya, OPCW tidak menyebutkan pihak mana yang bertanggung jawab atas penggunaan klorin dalam perang saudara yang telah berlangsung lebih dari tujuh tahun di Suriah tersebut.

Sebanyak 11 orang harus mendapatkan perawatan intensif setelah mengalami sesak napas usai serangan yang dilancarkan pasukan rezim Suriah ke kota Saraqeb, 4 Februari lalu. Demikian menurut laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Informasi tersebut turut diperkuat pernyataan seorang dokter di Idlib, Mohammad Ghaleb Tannari, yang mengaku rumah sakitnya merawat 11 orang dengan gejala yang sama.

"Ada 11 pasien yang kami terima dengan gejala yang sama dengan yang disebabkan gas klorin beracun, seperti kelelahan, kesulitan bernapas dan batuk-batuk," kata Tannari.

Tim pencari fakta OPCW saat ini masih menunggu hasil analisa laboratorium untuk sampel dari misi ke kota Douma, untuk memastikan ada tidaknya penggunaan senjata kimia dalam serangan ke kota tersebut pada 7 April lalu.

Baca juga: Gedung Putih: Rezim Assad Sedang Siapkan Serangan dengan Senjata Kimia

Sebanyak 40 orang tewas diduga akibat terpapar gas klorin dan sarin.

Tim bahkan sampai menggali makam korban untuk mengumpulkan sampel lingkungan untuk dianalisis di laboratorium.

"Kami sangat mengecam penggunaan bahan kimia beracun sebagai senjata oleh siapa pun, untuk alasan apa pun dan dalam keadaan apa pun."

"Tindakan seperti itu sangat bertentangan dengan larangan tegas terhadap penggunaan senjata kimia," kata Kepala OPCW, Ahmet Uzmucu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Internasional
Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X