Panas Terik Jadi Tantangan Ramadhan Etnis Rohingya di Pengungsian - Kompas.com

Panas Terik Jadi Tantangan Ramadhan Etnis Rohingya di Pengungsian

Kompas.com - 16/05/2018, 15:20 WIB
Anak-anak etnis Rohingya bersiap-siap untuk shalat di sebuah kamp pengungsi di Ukhia, Coxs Bazar, Bangladesh. Foto ini diambil pada 10 Mei 2018. (AFP/Munir Uz Zaman) Anak-anak etnis Rohingya bersiap-siap untuk shalat di sebuah kamp pengungsi di Ukhia, Coxs Bazar, Bangladesh. Foto ini diambil pada 10 Mei 2018. (AFP/Munir Uz Zaman)

COX'S BAZAR, KOMPAS.com - Seorang bocah etnis Rohingya bermimpi untuk melewati bulan suci Ramadhan untuk kembali ke desanya, di negara bagian Rakhine, Myanmar.

MD Hashim (12) membayangkan kegiatannya selama Ramadhan, seperti memancing sambil menanti buka puasa, dapat hadiah dari keluarga, dan bersantai di bawah pohon sebelum tarawih.

Tapi, Hashim dan lainnya harus hidup dalam kemiskinan di pengungsian, di Bangladesh.

Awal Ramadhan kali ini mengingatkannya pada sedikit kenangan tentang apa saja yang dia punya, sebelum terusir dari Myanmar oleh operasi militer.

"Di sini, kami tidak bisa membeli hadiah dan makan sehat, karena ini bukan negara kami," kata Hashim kepada AFP, dari wilayah bukit tandus di distrik Cox's Bazar.

Baca juga: Negara-negara Islam Mulai Bertindak Atasi Krisis Pengungsi Rohingya

Sebanyak 700.000 warga etnis Rohingya melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di desa mereka.

Namun, mereka memang beruntung dapat selamat. Tapi sekarang, dengan sedikit makanan dan uang, serta cuaca panas, membuat Ramadhan kali ini jauh lebih berat.

Duduk di dalam tenda plastik ketika terik menerpa, Hashim antusias untuk mengenang kembali kebahagiaan sederhana saat Ramadhan.

Menurut dia, Ramadhan merupakan waktu paling menyenangkan di desanya. Setiap malam, teman dan keluarganya akan buka puasa bersama, makan dengan lauk ikan dan daging.

Hashim juga mendapat baju baru dan sedikit parfum tradisional untuk merayakan hari Lebaran.

Baca juga: Tak Hanya Rohingya, Etnis Kachin di Myanmar Juga Mengungsi akibat Konflik

"Kami tidak bisa melakukan itu di sini, karena kami tidak punya uang. Kami tidak bisa mencari uang karena kami tidak diizinkan," ucapnya.

Warga Rohingya di pengungsian mengandalkan sumbangan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan bahan bangunan.

Hashim harus berjalan lebih dari satu jam di tengah panas terik yang membakar untuk mencapai pasar terdekat.

"Kami tidak bisa puasa di sini, karena terlalu panas. Tidak ada pepohonan," ujarnya.

Warga etnis Rohingya sedang menjalankan shalat di kamp pengungsian, di Ukhia, Coxs Bazar, Bangladesh, pada 10 Mei 2018. (AFP/Munir Uz Zaman) Warga etnis Rohingya sedang menjalankan shalat di kamp pengungsian, di Ukhia, Coxs Bazar, Bangladesh, pada 10 Mei 2018. (AFP/Munir Uz Zaman)
Tanpa keluarga

Namun, dia masih dapat berkumpul dengan keluarganya, mengingat anak-anak lain tidak seberuntung dirinya.

Ribuan anak-anak mengungsi ke Bangladesh tanpa keluarga dan orangtua, terpisah akibat kekerasan yang terjadi atau akibat penyakit saat eksodus massal dari Myanmar.

"Sayangnya, ini akan menjadi Ramadhan pertama yang bakal diingat karena alasan yang keliru," kata Roberta Businaro dari lembaga amal Save the Children.

"Mereka cuma punya tanah, lumpur, dan pasir untuk bermain. Mereka akan melewati Ramadhan jauh dari rumah, orangtua, dan teman-teman mereka," imbuhnya.

Baca juga: Musim Hujan Tiba, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Khawatir Banjir

Kendati sulitnya hidup di pengungsian, warga etnis Rohingya lain optimistis tidak bakal meninggalkan kewajibannya.

"Ini bakal menjadi sulit karena matahari sungguh panas, tapi kami tetap akan berpuasa," kata imam Muhammad Yusuf.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X