Pelajar Rusia di Luar Negeri Diimbau Kembali Pulang

Kompas.com - 25/04/2018, 09:10 WIB
Kota Khabarovsk, Rusia. WikipediaKota Khabarovsk, Rusia.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia memanggil sekitar 60.000 warga negaranya yang menempuh pendidikan di luar negeri untuk kembali ke rumahnya.

Dilansir dari VOA, Selasa (24/4/2018), imbauan itu diumumkan pada 16 April lalu sebagai tanggapan atas fenomena sikap Russophobia atau sentimen anti-Rusia yang berkembang.

Lembaga pemerintah yang bertugas membentuk citra Rusia dan mendukung warga yang tinggal di luar negeri menyebut, banyak insiden terkait Russophobia yang menyebar di banyak negara, terutama di Eropa.

"Ada peningkatan insiden tindakan kasar anti-Rusia," tulis lembaga pemerintah Rusia.

Baca juga : Jaga Hubungan Baik dengan Putin, Trump Tunda Sanksi untuk Rusia

Laporan dari surat kabar Kommersant menunjukkan, banyak kaum muda Rusia yang mengalami kesulitan di negara lain karena tindakan tidak ramah.

"Ini merupakan pertanyaan penting terkait keamanan kaum muda yang belajar di luar negeri," kata Oksana Buryak, moderator program Rossotrudnichestvo, yang membawa para pelajar kembali pulang.

Kepala departemen manajemen dan politik di Universitas MGIMO Moskwa, Genri Sardarian, mengatakan lembaga pendidikan di Rusia diklaim telah siap untuk menerima kedatangan para pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan di negaranya.

"Kami sering menilai tinggi universitas luar negeri dan merendahkan tingkat pendidikan di lembaga-lembaga Rusia," kata Sardarian.

Seperti diketahui, banyak negara termasuk AS menuduh pemerintah Rusia memerintahkan peracunan terhadap mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya pada 4 Maret 2018 di Salisbury, Inggris.

Baca juga : Seorang Siswa Berpisau Mengamuk di Rusia, 4 Terluka

Namun, Rusia menyangkal tuduhan tersebut. Insiden tersebut membuat banyak negara Barat mengusir puluhan diplomat Rusia, yang kemudian memicu aksi balasan serupa.

Hubungan yang semakin memburuk antara AS dan Rusia juga telah menyulitkan beberapa pelajar AS yang ingin belajar di Rusia.

Universitas Stanford di California misalnya, yang menangguhkan program pengiriman mahasiswanya ke Rusia, setelah Kementerian Dalam Negeri AS memasukkan Rusia dalam daftar negara paling berbahaya untuk dikunjungi pada Januari lalu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber VOA News
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polemik Transisi Kekuasaan Mahathir, Anwar Ibrahim Minta Perdebatannya Dihentikan

Polemik Transisi Kekuasaan Mahathir, Anwar Ibrahim Minta Perdebatannya Dihentikan

Internasional
Singapura Umumkan Kasus Pertama Virus Corona

Singapura Umumkan Kasus Pertama Virus Corona

Internasional
Alarm Kebakaran Menyala, 59 Penerbangan di Bandara Changi Terganggu

Alarm Kebakaran Menyala, 59 Penerbangan di Bandara Changi Terganggu

Internasional
Ludahi Pizza Pelanggan, Pria di Turki Terancam Dipenjara 18 Tahun

Ludahi Pizza Pelanggan, Pria di Turki Terancam Dipenjara 18 Tahun

Internasional
Cegah Penyebaran Virus Corona, 2 Kota di China Ditutup

Cegah Penyebaran Virus Corona, 2 Kota di China Ditutup

Internasional
Hadapi Virus Corona, Singapura Isolasi Pengunjung China yang Terkena Penumonia

Hadapi Virus Corona, Singapura Isolasi Pengunjung China yang Terkena Penumonia

Internasional
Kisah Pengantin Pesanan di China: Terpaksa Hamil agar Bisa Pulang ke Indonesia

Kisah Pengantin Pesanan di China: Terpaksa Hamil agar Bisa Pulang ke Indonesia

Internasional
Pesawat Hercules C-130 Jatuh Saat Padamkan Kebakaran Hutan di Australia, 3 Orang Tewas

Pesawat Hercules C-130 Jatuh Saat Padamkan Kebakaran Hutan di Australia, 3 Orang Tewas

Internasional
Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Internasional
Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Internasional
Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Internasional
Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran 'Pertukaran Saksi'

Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran "Pertukaran Saksi"

Internasional
Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Internasional
Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X