Kompas.com - 23/04/2018, 09:55 WIB

"Tidak ada yang bakal ikut memilih," tambahnya.

Kemarahan masyarakat atas peristiwa teror yang terus terjadi tergambarkan di Rumah Sakit Isteqlal, tempat di mana banyak korban ledakan bom bunuh diri dirawat.

"Tubuh saya dipenuhi darah, banyak orang mati, perempuan dan anak-anak. Mereka berada di sekitar saya," kata seorang korban bernama Ali Rasuli.

Baca juga : Pelaku Bom Bunuh Diri Serang Masjid di Afghanistan

Dia berdiri dalam antrean di luar pusat registrasi pemilih. Kemudian dia dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka di kaki dan bagian perut.

Afghanistan memulai pendaftaran pemilih sejak 14 April 2018. Mereka akan berpartisipasi pada pemilu legislatif yang lama tertunda.

Pemilu kali ini dilihat sebagai uji coba untuk pemilihan presiden tahun depan. Sejauh ini, sudah ada empat serangan di lokasi pendaftaran pemilih selama sepekan terakhir.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber BBC,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.