Kompas.com - 19/04/2018, 14:41 WIB

"Warga desa yang lain sangat marah kepada kami karena kasus itu. Mereka tidak ingin kami tinggal di sini," keluh Ali seperti dilansir Al Jazeera Kamis (19/4/2018).

Pria berusia 40 tahun itu menggambarkan ketakutan yang dirasakannya. Dia berujar, mereka bahkan "takut untuk sekadar berjalan di padang rumput".

"Ketakutan ini tidak pergi menghilang. Kami jadi mengkhawatirkan keselamatan anak-anak dan keluarga kami yang lain," beber Ali.

Pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Muhammad Yusuf, paman korban yang lain. Dia mengaku sudah meninggalkan rumahnya di Rasana awal April ini.

Baca juga : Hadiri Pernikahan, Pria di India Malah Perkosa dan Bunuh Gadis 7 Tahun

Yusuf berkata kalau di memutuskan pindah ke Kargil. "Sebelum pergi, kami sempat meminta polisi untuk menjaga rumah dan milik kami sebab kami takut bakal dirusak," tuturnya.

Dia mengaku sudah tinggal di Rasana selama tiga dekade. "Hati saya sangat hancur memikirkan apa yang telah terjadi," katanya.

Yusuf menambahkan, hampir semua keluarga komunitas Bakarwal telah meninggalkan Rasana. Hanya sedikit yang memutuskan tinggal.

Ketakutan tidak hanya dirasakan oleh anggota keluarga Bano maupun masyarakat Bakarwal yang lain. Namun juga dirasakan oleh pengacara keluarga Bano, Deepika Rajawat.

Rajawat mengaku, dia mendapat ancaman bakal diperkosa dan dibunuh dari para pendukung delapan pelaku.

Insiden yang terjadi selama tiga bulan terakhir mendapat perhatian dari Nayema Mehjoor, ketua komisi perempuan setemat.

Mehjoor menyatakan, insiden yang menimpa Bano sangatlah brutal. Selain itu, dia juga menyayangkan intimidasi yang dilakukan beberapa kelompok ekstremis.

"Saya berkomitmen bahwa pemerintah menjamin keadilan dalam kasus ini. Seharusnya tidak ada campur tangan politik," tegas Mehjoor.

Baca juga : Seorang Ayah Perkosa Anak Tirinya Selama 2 Tahun

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.